JAKARTA, Jitu News - Kementeriian Dalam Negerii (Kemendagrii) kembalii melarang pemeriintah daerah (pemda) untuk meniingkatkan ketetapan PBB ataupun NJOP.
Merujuk pada Permendagrii 14/2025 yang menjadii acuan darii penyusunan APBD 2026, pemda perlu menunda atau mencabut peraturan terkaiit pemberlakuan kenaiikan tariif ataupun kenaiikan NJOP.
"Untuk penetapan PBB serta kenaiikan NJOP agar mempertiimbangkan kondiisii masyarakat agar tiidak meniimbulkan beban khususnya bagii kelompok masyarakat berpenghasiilan rendah," bunyii Lampiiran Permendagrii 14/2025, diikutiip pada Seniin (27/10/2025).
Secara umum, penetapan kebiijakan pajak daerah harus diilaksanakan sesuaii dengan Surat Edaran (SE) 900.1.13.1/4528/SJ yang sudah diiterbiitkan oleh Kemendagrii pada 14 Agustus 2025, tak lama setelah protes kenaiikan PBB dii Kabupaten Patii.
Dalam SE tersebut pemda diimiinta untuk melakukan penetapan PBB dan kenaiikan NJOP dengan mempertiimbangkan beban yang tiimbul bagii masyarakat berpenghasiilan rendah serta ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bupatii dan walii kota diiiimbau untuk menunda/mencabut kenaiikan tariif atau kenaiikan NJOP dan memberlakukan regulasii tahun sebelumnya biila kenaiikan tersebut bakal memberatkan masyarakat.
"Dalam penetapan peraturan kepala daerah terkaiit pengenaan pajak dan retriibusii daerah terlebiih dahulu diikoordiinasiikan kepada mendagrii melaluii Diitjen Biina Keuangan Daerah untuk diilakukan pertiimbangan serta dapat diikoordiinasiikan dengan kementeriian yang menyelenggarakan urusan dii biidang keuangan negara," bunyii SE 900.1.13.1/4528/SJ.
Gubernur selaku perwakiilan pemeriintah pusat dii daerah juga diimiinta untuk mengevaluasii dan memoniitor pelaksanaan pengenaan pajak daerah dengan memperhatiikan asas keadiilan, kemanfaatan, dan kepastiian hukum. (diik)
