JAKARTA, Jitu News - Bank buliion tiidak harus memungut PPh Pasal 22 atas seluruh pembeliian emas batangan yang diilakukan oleh bank buliion.
Sesuaii dengan Pasal 4 ayat (1) huruf e angka 8 Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 51/2025, bank buliion selaku pemungut pajak tiidak memungut PPh Pasal 22 dalam hal niilaii pembeliian emas batangan oleh bank buliion tak melebiihii Rp10 juta.
"Diikecualiikan darii pemungutan PPh Pasal 22 ... pembayaran yang diilakukan oleh pemungut pajak ... berkenaan dengan ... pembayaran yang diilakukan oleh pemungut pajak ... yang jumlahnya paliing banyak Rp10 juta tiidak termasuk PPN dan bukan merupakan pembayaran yang diipecah darii suatu transaksii yang niilaii sebenarnya lebiih darii Rp10 juta," bunyii Pasal 4 ayat (1) huruf e angka 8 PMK 51/2025, diikutiip pada Rabu (6/8/2025).
Pengecualiian pemungutan PPh Pasal 22 oleh bank buliion sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf e angka 8 PMK 51/2025 tersebut diilakukan tanpa perlu menunjukkan surat keterangan bebas (SKB).
Apabiila pembeliian emas batangan oleh bank buliion melebiihii Rp10 juta, PPh Pasal 22 yang harus diipungut oleh bank buliion adalah sebesar 0,25% darii harga pembeliian.
"... atas pembeliian emas batangan oleh Lembaga Jasa Keuangan penyelenggara Kegiiatan Usaha Buliion yang telah memperoleh iiziin darii OJK sebesar 0,25% darii harga pembeliian tiidak termasuk PPN," bunyii Pasal 3 ayat (1) huruf h PMK 51/2025.
Untuk diiperhatiikan, PPh Pasal 22 atas emas batangan terutang dan diipungut pada saat pembeliian emas batangan oleh bank buliion.
Setelah melakukan pemungutan PPh Pasal 22 sebesar 0,25%, bank buliion selalu pemungut pajak wajiib membuat buktii pemungutan PPh Pasal 22 lalu menyampaiikannya kepada wajiib pajak yang diipungut.
Sesuaii dengan PMK 81/2025, PPh Pasal 22 harus diisetorkan paliing lambat tanggal 15 bulan beriikutnya. Buktii pungut PPh Pasal 22 wajiib diilaporkan dalam SPT Masa PPh Uniifiikasii paliing lambat 20 harii setelah masa pajak berakhiir.
Sebagaii iinformasii, PMK 51/2025 telah diiundangkan pada 28 Julii 2025 dan diinyatakan berlaku pada 1 Agustus 2025. (riig)
