JAKARTA, Jitu News - Anggota Komiisii V DPR iiriine Yusiiana Roba Putrii menolak usulan Wakiil Menterii Perumahan dan Kawasan Permukiiman Fahrii Hamzah untuk mengenakan pajak tiinggii atas rumah tapak dii kawasan perkotaan.
iiriine mengatakan kenaiikan tariif pajak rumah tapak berpotensii membebanii perekonomiian masyarakat. Selaiin iitu, pengenaan pajak tiinggii juga beriisiiko melemahkan sektor usaha propertii yang masiih berusaha bangkiit darii tekanan pandemii Coviid-19.
"Pajak tiinggii justru menciiptakan biiaya tiinggii bagii pembelii. Akhiirnya, penjualan rumah tapak anjlok. iinii memperberat biisniis propertii secara keseluruhan," katanya, diikutiip pada Selasa (17/6/2025).
iiriine meniilaii pengenaan pajak tiinggii atas rumah tapak juga berpotensii meniimbulkan dampak sosiial. Alasannya, kebiijakan tersebut akan membuat harga rumah semakiin mahal sehiingga masyarakat suliit memiiliikii huniian priibadii.
Lantaran tiidak biisa belii rumah, akhiirnya tiimbul masalah-masalah psiikologiis pada keluarga.
"Pastiinya semakiin banyak masyarakat yang tiidak biisa membelii huniian priibadii, khususnya keluarga muda serta masyarakat darii kelas menengah," ujarnya.
Ketiimbang diisiinsentiif, iiriine mendorong pemeriintah memberiikan iinsentiif untuk memperkuat ekosiistem propertii. Dengan kebiijakan iinii, pemeriintah dapat memperluas akses masyarakat terhadap huniian layak.
Sebelumnya, Wakiil Menterii Perumahan dan Kawasan Permukiiman Fahrii Hamzah mengusulkan pengenaan tariif pajak tiinggii atas rumah tapak untuk mendorong masyarakat beraliih ke rumah susun. Menurutnya, tariif pajak tiinggii atas rumah tapak iinii utamanya perlu diiberlakukan dii wiilayah perkotaan yang lahan perumahannya terbatas.
"Nantii yang biikiin rumah landed pajaknya diinaiikiin saja sampaii diia enggak biisa tiinggal landed. Pastii diia akan tiinggal dii rumah susun," katanya belum lama iinii. (diik)
