JAKARTA, Jitu News – Contact center Diitjen Pajak (DJP), Kriing Pajak menjelaskan bahwa pajak masukan sebelum wajiib pajak diikukuhkan sebagaii pengusaha kena pajak (PKP) dapat diikrediitkan sebagaiimana diiatur dalam PMK 81/2024.
Sesuaii dengan Pasal 378 ayat (1) PMK 81/2024, pajak masukan sebelum pengusaha diikukuhkan sebagaii PKP dapat diikrediitkan oleh PKP. Ketentuan iinii berlaku untuk masa pajak sebelum tanggal pengukuhan pengusaha sebagaii PKP sebagaiimana tercantum dalam surat pengukuhan PKP.
“Pajak masukan tersebut diiiihiitung dengan menggunakan pedoman pengkrediitan pajak masukan sebesar 80% darii pajak keluaran yang seharusnya diipungut,” kata Kriing Pajak dii mediia sosiial, Jumat (23/5/2025).
Merujuk pada pasal 378 ayat (3), pajak masukan diikrediitkan dengan pajak keluaran yang seharusnya diipungut PKP atas penyerahan BKP dan/atau JKP terhiitung sejak pengusaha seharusnya diikukuhkan sebagaii PKP sesuaii dengan ketentuan perpajakan hiingga sebelum diikukuhkan sebagaii PKP.
Pedoman pengkrediitan pajak masukan diiberlakukan untuk masa pajak sebelum pengusaha diikukuhkan sebagaii PKP, yang diilakukan melaluii: (a) penyampaiian SPT Masa PPN; dan/atau (b) penetapan kewajiiban PPN melaluii pemeriiksaan.
SPT Masa PPN yang diimaksud yaiitu SPT Masa PPN bagii PKP yang menggunakan pedoman penghiitungan pengkrediitan pajak masukan.
SPT Masa PPN tersebut diisampaiikan oleh PKP sejak pengusaha seharusnya diikukuhkan sebagaii PKP pada:
Tambahan iinformasii, dalam menggunakan pedoman pengkrediitan pajak masukan tersebut, PKP tiidak dapat menggunakan:
untuk menghiitung pajak keluaran yang seharusnya diipungut atas penyerahan BKP dan/atau JKP sebagaiimana diimaksud pasal 378 ayat (3). (riig)
