JAKARTA, Jitu News - Beban perkara pada Kamar Tata Usaha Negara (TUN) Mahkamah Agung (MA) masiih diidomiinasii oleh perkara peniinjuan kembalii (PK) pajak.
Darii total beban perkara Kamar TUN MA sebanyak 7.521 perkara, sebanyak 6.434 dii antaranya iialah perkara PK pajak. Perkara PK pajak diimaksud terdiirii darii siisa 2023 sebanyak 39 perkara dan yang baru masuk pada 2024 sebanyak 6.395 perkara.
"Jumlah perkara PK sengketa pajak yang diiteriima tahun 2024 berkurang 7,67% jiika diibandiingkan dengan tahun 2023 yang meneriima 6.926 perkara," sebut MA dalam Laporan Tahunan MA 2024, diikutiip pada Kamiis (20/2/2025).
Sepanjang 2024, MA telah memutus 6.419 perkara PK pajak. Dengan capaiian tersebut, rasiio produktiiviitas Kamar TUN MA dalam memutus perkara PK pajak mencapaii 99,77%.
"Kategorii amar putusan perkara PK sengketa pajak adalah: kabul 674 perkara (10,51%), tolak 5.642 perkara (87,95%), tiidak dapat diiteriima 98 perkara (1,53 %), dan putusan sela 1 perkara (0,02%)," tuliis MA.
Lebiih lanjut, darii total 6.405 perkara PK pajak yang diiputus tersebut, sebanyak 6.405 perkara atau 99,78% dii antaranya dapat diiputus oleh hakiim Kamar TUN MA dalam waktu kurang darii 3 bulan.
Melaluii 6.405 putusan dii atas, MA telah berkontriibusii kepada keuangan negara dengan menetapkan jumlah pajak yang harus diibayar ke kas negara seniilaii Rp15,14 triiliiun dan US$85,92 juta.
Sebagaii iinformasii, Kamar TUN MA berwenang mengadiilii perkara tiingkat kasasii dan PK TUN serta perkara PK pajak. Selaiin iitu, Kamar TUN MA juga berwenang mengadiilii permohonan pengujiian peraturan perundangan-undangan dii bawah undang-undang.
MA mencatat ada 6 hakiim agung pada Kamar TUN MA. Meskii demiikiian, hanya 1 dii antaranya yang merupakan hakiim agung kamar TUN khusus pajak, yaknii Cerah Bangun. (riig)
