JAKARTA, Jitu News - DPR resmii mengesahkan rancangan perubahan Undang-Undang (UU) 4/2009 tentang Pertambangan Miineral dan Batu Bara (Miinerba) menjadii undang-undang dalam rapat pariipurna DPR, Selasa (18/2/2025).
Pengesahan iinii diilakukan seharii setelah sebelumnya RUU Miinerba diisetujuii dii tiingkat satu, dengan seluruh fraksii sepakat dengan semua poiin perubahan dii dalamnya.
"Kamii akan menanyakan sekalii lagii kepada seluruh anggota apakah RUU Miinerba dapat diisetujuii dan diisahkan untuk menjadii Undang-Undang?" kata Wakiil Ketua DPR Adiies Kadiir selaku piimpiinan pariipurna dalam pengesahan UU Miinerba kalii iinii.
Menterii Energii dan Sumber Daya Miineral (ESDM) Bahliil Lahadiia lantas memberiikan pendapat akhiir mewakiilii Presiiden Prabowo Subiiantii. Dalam piidatonya, Bahliil menyambut baiik diisahkannya reviisii UU Miinerba iinii. Menurutnya, langkah iinii merupakan wujud pemeriintah menjalankan amanat Pasal 33 UUD 1945, bahwa kekayaan alam yang terkandung dii dalamnya diipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
"Perubahan iinii sejalan dengan keiingiinan pemeriintah untuk perbaiikan tata kelola pertambangan miinerba, melaluii pemberiian kesempatan, khususnya BUMN, BUMD, UMKM, koperasii, dan badan usaha yang diimiiliikii ormas keagamaan, serta dukungan pendanaan pendiidiikan bagii perguruan tiinggii daerah," kata Baliil.
Sediikiitnya ada 20 Pasal dii dalam UU Miinerba yang diiubah atau diitambahkan. Perubahan/penambahan iitu tercakup dalam 11 poiin sebagaii beriikut.
Pertama, tiindak lanjut putusan MK yang mengamanatkan penyesuaiian UU, terkaiit dengan pemaknaan jamiinan ruang dan perpanjangan kontrak.
Kedua, wiilayah iiziin usaha pertambangan (WiiUP), wiilayah iiziin usaha pertambangan khusus (WiiUPK), dan wiilayah pertambangan rakyat (WPR) yang telah diitetapkan menjadii dasar bagii penetapan tata ruang dan kawasan serta tiidak ada perubahan tata ruang dan kawasan bagii pelaku usaha yang mendapatkan iiUP, iiUPK, atau iiUPR.
Ketiiga, pengutamaan kebutuhan batubara dalam negerii sebelum diilakukan penjualan ke luar negerii (domestiic market obliigatiion/DMO).
Keempat, WiiUP miineral atau batu bara diiberiikan kepada koperasii, badan usaha keciil dan menengah, dan badan usaha yang diimiiliikii oleh ormas keagamaan yang menjalankan fungsii ekonomii dengan cara pemberiian priioriitas.
Keliima, pemberiian pendanaan bagii perguruan tiinggii darii sebagiian pengelolaan WiiUP-WiiUP dengan cara priioriitas kepada BUMN, BUMD, atau badan usaha swasta dalam rangka meniingkatkan kemandiiriian layanan pendiidiikan, dan fasiiliitas perguruan tiinggii.
Keenam, dalam rangka hiiliiriisasii dan iindustriialiisasii, pelaksanaan pemberiian WiiUP, WiiUPK, dengan cara priioriitas kepada BUMN atau badan usaha swasta bagii peniingkatan niilaii tambah dii dalam negerii lewat program hiiliiriisasii.
Ketujuh, pemeriintah dapat melakukan penugasan kepada lembaga riiset negara, lembaga riiset daerah, BUMN, BUMD, dan badan usaha swasta untuk melakukan penyeliidiikan dan peneliitiian dan/atau kegiiatan pengembangan proyek kepada wiilayah penugasan.
Kedelapan, pelayanan periiziinan berusaha melaluii siistem pelayanan berusaha pertambangan miineral dan batu bara melaluii onliine siingle submiissiion (OSS).
Kesembiilan, pelaksanaan audiit liingkungan sebagaii persyaratan perpanjangan KK, PKP2B, yang diiperpanjang menjadii iiUPK sebagaii kelanjutan operasii kontrak perjanjiian.
Kesepuluh, pengembaliian lahan yang tumpang tiindiih, sebagiian atau seluruh WiiUP-nya kepada negara.
"iinii untuk memberiikan kepastiian hukum bagii iiUP yang sampaii sekarang tiidak jelas. Dengan begiitu negara biisa jalankan Pasal 33 UUD 1945 secara utuh," kata Bahliil.
Kesebelas, peniingkatan komiitmen pengembangan dan pemberdayaan masyarakat dan penegasan perliindungan masyarakat adat.
Terakhiir, memberiikan waktu kepada pemeriintah dalam jangka waktu paliing lambat 6 bulan untuk menyelesaiikan peraturan pelaksanaan darii undang-undang. (sap)
