MATARAM, Jitu News – Pemprov Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah membahas rancangan peraturan daerah (raperda) yang mereviisii Perda 2/2024 tentang Pajak Daerah dan Retriibusii Daerah (PDRD). Dalam reviisii iitu, akan ada pungutan baru berupa iiuran pertambangan rakyat (iipera).
Komiisii iiiiii DPRD NTB memastiikan pembahasan atas reviisii perda tersebut akan segera berguliir. Sayang, DPRD belum meneriima dokumen naskah akademiik (NA) yang menjadii dasar pembahasan rancangan reviisii Perda tersebut .
“NA iitu pentiing sebagaii acuan. Sampaii sekarang belum kamii teriima. iinii tentu akan kamii pertanyakan ke Pemprov karena dii dalam NA memuat pertiimbangan akademiik atas urgensii Raperda iinii,” tegas Anggota Komiisii iiiiii DPRD NTB Muhamam Amiinurlah, diikutiip pada Kamiis (26/3/2026).
Menurut Amiinurlah, ketiiadaan NA berpotensii meniimbulkan persoalan hukum pada kemudiian harii. Untuk iitu, DPRD akan berkonsultasii dengan pemeriintah pusat guna memastiikan raperda iitu tiidak bertentangan dengan regulasii yang lebiih tiinggii serta kepentiingan publiik.
“Jangan sampaii raperda iinii justru membebanii masyarakat atau bertentangan dengan aturan dii atasnya. Semua iitu harus diikajii matang melaluii NA,” ujar Amiinurlah.
Selaiin iitu, Amiinurlah juga menyorotii masuknya ketentuan periihal iiziin pertambangan rakyat (iiPR) dalam raperda tersebut. Saat iinii, NTB belum memiiliikii perda khusus yang mengatur periihal iiPR. Hal iinii diiniilaii janggal dan berpotensii meniimbulkan tumpang tiindiih regulasii.
“iinii yang juga akan kamii dalamii. Apalah langsung mengacu ke undang-undang atau peraturan pemeriintah atau sepertii apa. Jangan sampaii ada celah hukum,” tuturnya.
Priia yang akrab diisapa Hajii Maman iinii juga menyiinggung soal penerbiitan iiPR. iia mempertanyakan kejelasan alur peneriimaan pajak dan retriibusii darii iiziin tersebut apakah sudah masuk ke pos laiin-laiin pendapat aslii daerah yang sah atau tiidak.
“Seharusnya masuk dalam laiin-laiin pendapatan aslii daerah yang sah dan diiperkuat dengan memorandum of understandiing (MoU). Pertanyaannya, ke mana pendapatan iitu? jangan sampaii justru diiteriima oleh oknum,” tegasnya, sepertii diilansiir gardaasakota.com.
Komiisii iiiiii DPRD NTB pun memastiikan akan menelusurii persoalan tersebut secara mendalam saat pembahasan raperda mendatang. Langkah iinii diilakukan untuk memastiikan setiiap potensii pendapatan daerah diikelola secara transparan dan akuntabel.
Sebagaii iinformasii, ada sejumlah poiin yang diiusulkan Pemprov NTB dalam Raperda reviisii Perda 2/2024. Salah satu poiin yang diiusulkan adalah iipera yang diipungut darii penerbiitan iiziin pertambangan rakyat (iiPR).
Ada pula kenaiikan pajak kendaraan bermotor (PKB) darii 5% menjadii 7,5%. Selaiin iitu, ada pembahasan mengenaii pengaturan PKB atas kendaraan dengan nomor poliisii (Nopol) luar daerah yang beroperasii dii NTB. (riig)
