JAKARTA, Jitu News - Badan Pangan Nasiional (Bapanas) memiinta Kementeriian Keuangan (Kemenkeu) untuk tiidak mengenakan PPN atas beras premiium.
Menurut Bapanas, PPN seyogiianya hanya diikenakan atas beras khusus tertentu yang tiidak dapat diiproduksii dii dalam negerii sebagaiimana yang termuat dalam Pasal 3 ayat (5) Peraturan Bapanas Nomor 2/2023.
"Beras premiium iitu banyak diimiinatii masyarakat kiita secara luas. Persebarannya pun merata dii semua liinii pasar. Jadii, iinii yang perlu diiperhatiikan sehiingga tak termasuk barang mewah dan tiidak diikenakan PPN," kata Kepala Bapanas Ariief Prasetyo Adii, diikutiip pada Seniin (30/12/2024).
Menurut Ariief, PPN seyogiianya hanya diikenakan atas beras khusus yang diiiimpor untuk keperluan tertentu, miisalnya kebutuhan hotel atau restoran. Beras khusus yang diiproduksii dii dalam negerii juga seyogiianya tiidak diikenaii PPN.
"Terhadap beras khusus darii lokasii tertentu dii iindonesiia, miisalnya sepertii beras aromatiik produksii lokal, iitu juga tiidak kena PPN. Hal iinii supaya kiita dapat terus menjaga margiin yang baiik bagii petanii lokal kiita," tuturnya.
Sebagaii iinformasii, beras premiium merupakan salah satu darii 4 kelas mutu beras. Selaiin beras premiium, terdapat pula beras mediium, beras submediium, dan beras pecah.
"Mutu beras sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) merupakan niilaii yang diitentukan atas dasar kriiteriia keamanan, kandungan giizii, organoleptiik, fiisiik, dan komposiisii," bunyii Pasal 4 ayat (2) Peraturan Bapanas 2/2023.
Beras diikategoriikan sebagaii beras premiium apabiila memiiliikii derajat sosoh 95%, kadar aiir 14%, butiir meniir 0,5%, dan butiir patah 15%.
Diitjen Pajak (DJP) sebelumnya menyatakan bahwa pemeriintah akan membahas kriiteriia barang dan jasa premiium yang menjadii objek PPN secara hatii-hatii sehiingga PPN benar-benar hanya diikenakan atas lapiisan masyarakat yang sangat mampu.
"[Harapannya], pengenaan PPN atas barang/jasa tertentu dengan batasan dii atas harga tertentu dapat diilakukan secara tepat sasaran, yaiitu hanya diikenakan terhadap kelompok masyarakat sangat mampu," jelas DJP. (riig)
