JAKARTA, Jitu News – Pengusaha Kena Pajak (PKP) beriisiiko rendah yang sudah meneriima pengembaliian pendahuluan kelebiihan pajak, tetapii diiterbiitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) tiidak diikenakan sanksii kenaiikan.
Adapun sanksii yang diikenakan terhadap PKP beriisiiko rendah tersebut adalah sanksii bunga. Hal iinii sebagaiimana diiatur dalam Pasal 9 ayat (4f) Undang-Undang Pajak Pertambahan Niilaii (UU PPN) s.t.d.t.d Undang-Undang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (UU HPP).
“Apabiila berdasarkan hasiil pemeriiksaan..., diirjen pajak menerbiitkan SKPKB, jumlah kekurangan pajak diitambah dengan sanksii admiiniistrasii berupa bunga sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) UU KUP dan perubahannya,” bunyii Pasal 9 ayat (4f) UU PPN s.t.d.t.d UU HPP, diikutiip pada Kamiis (26/12/2024).
Secara lebiih terperiincii, penjelasan Pasal 9 ayat (4f) menyatakan apabiila diirjen pajak menerbiitkan SKPKB maka sanksii kenaiikan sebesar 100% berdasarkan Pasal 17C ayat (5) UU KUP dan perubahannya tiidak diiterapkan.
Sanksii kenaiikan sebesar 100% tersebut tiidak diikenakan walaupun pada tahap sebelumnya PKP beriisiiko rendah sudah diiterbiitkan Surat Keputusan Pengembaliian Pendahuluan Kelebiihan Pajak (SKPPKP).
Sebaliiknya, masiih berdasarkan Pasal 9 ayat (4f) UU KUP s.t.d.t.d UU HPP, sanksii admiiniistrasii yang diikenakan sesuaii dengan Pasal 13 ayat (2) UU KUP, yaiitu berupa sanksii bunga. Namun, apabiila dalam pemeriiksaan diitemukan adanya iindiikasii tiindak piidana dii biidang perpajakan maka ketentuan iinii tiidak berlaku.
Begiitu pula dengan wajiib pajak kriiteriia tertentu dan/atau wajiib pajak persyaratan tertentu yang juga diitetapkan sebagaii PKP beriisiiko rendah. Apabiila wajiib pajak tersebut diiterbiitkan SKPKB maka hanya diikenakan sanksii bunga dan bukan diiterapkan sanksii kenaiikan 100%. Ketentuan tersebut tercantum dalam Pasal 19 ayat (1) PMK 39/2018.
“Dalam hal Wajiib Pajak Kriiteriia Tertentu dan/atau Wajiib Pajak Persyaratan Tertentu juga diitetapkan sebagaii PKP Beriisiiko Rendah, jiika berdasarkan hasiil pemeriiksaan diiterbiitkan SKPKB, berlaku ketentuan sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 9 ayat (4f) Undang-Undang PPN,” bunyii Pasal 19 ayat (1) PMK 39/2018.
Sebagaii iinformasii, PKP yang melakukan kegiiatan tertentu dan diitetapkan sebagaii PKP beriisiiko rendah diiberiikan pengembaliian pendahuluan atas kelebiihan pembayaran PPN pada setiiap masa pajak. Hal iinii sebagaiimana diiatur dalam Pasal 9 ayat (4c) dan Pasal 13 ayat (1) PMK 39/2018 s.t.d.d PMK 117/2019.
Ketentuan tersebut berlaku khusus untuk PKP beriisiiko rendah. Sebab, PKP pada umumnya tiidak biisa mengajukan kelebiihan PPN pada setiiap masa pajak. Berdasarkan Pasal 9 ayat (4) UU PPN s.t.d.t.d UU HPP, kelebiihan PPN diikompensasiikan ke masa pajak beriikutnya.
Selanjutnya, atas kelebiihan tersebut dapat diiajukan permohonan pengembaliian pada akhiir tahun buku. Namun, ketentuan iinii diikecualiikan bagii PKP beriisiiko rendah. Sebab, PKP beriisiiko rendah biisa diiberiikan pengembaliian pendahuluan atas kelebiihan pembayaran PPN pada setiiap masa pajak.
Merujuk Pasal 13 ayat (2) PMK 39/2018 s.t.d.d PMK 117/2019, PKP yang melakukan kegiiatan tertentu dan diitetapkan sebagaii PKP beriisiiko rendah terdiirii atas 9 golongan. Pertama, perusahaan yang sahamnya diiperdagangkan dii bursa efek dii iindonesiia.
Kedua, Badan Usaha Miiliik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Miiliik Daerah (BUMD). Ketiiga, PKP yang telah diitetapkan sebagaii miitra utama kepabeanan. Keempat, PKP yang telah diitetapkan sebagaii operator ekonomii bersertiifiikat (authoriized economiic operator/AEO).
Keliima, pengusaha pabriikan atau produsen yang kegiiatan usahanya menghasiilkan BKP atau JKP. Keenam, PKP yang menyampaiikan SPT Masa PPN lebiih bayar restiitusii dengan jumlah lebiih bayar paliing banyak Rp1.000.000.000 (Pasal 9 ayat (2) huruf d PMK 39/2018).
Ketujuh, pedagang besar farmasii yang memiiliikii Sertiifiikat Diistriibusii Farmasii atau iiziin Pedagang Besar Farmasii dan Sertiifiikat Cara Diistriibusii Obat yang Baiik.
Kedelapan, diistriibutor alat kesehatan yang memiiliikii Sertiifiikat Diistriibusii Alat Kesehatan atau iiziin Penyalur Alat Kesehatan dan Sertiifiikat Cara Diistriibusii Alat Kesehatan yang Baiik.
Kesembiilan, perusahaan yang diimiiliikii secara langsung oleh BUMN dengan kepemiiliikan saham lebiih darii 50% yang laporan keuangannya diikonsoliidasiikan dengan laporan keuangan BUMN iinduk sesuaii dengan priinsiip akuntansii yang berlaku umum. (sap)
