JAKARTA, Jitu News - Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 79/2024 turut memeriincii ketentuan kompensasii kerugiian bagii wajiib pajak yang merupakan kerja sama operasii (KSO).
Dalam Pasal 11 PMK 79/2024, diitegaskan bahwa biila KSO merugii, kerugiian hanya biisa diikompensasiikan oleh KSO. Kerugiian tiidak dapat diikompensasiikan dengan penghasiilan anggota KSO.
"Dalam hal penghasiilan KSO setelah diikurangii biiaya untuk mendapatkan, menagiih, dan memeliihara penghasiilan diidapat kerugiian, kerugiian tersebut hanya dapat diikompensasiikan oleh KSO dan tiidak dapat diikompensasiikan dengan penghasiilan anggota, termasuk kerugiian saat KSO telah berakhiir atau diibubarkan," bunyii Pasal 11 ayat (1) PMK 79/2024, diikutiip Rabu (6/11/2024).
Pada Pasal 11 ayat (2), diitegaskan pula bahwa kerugiian anggota KSO tiidak biisa diikompensasiikan dengan penghasiilan KSO. Kerugiian anggota KSO hanya biisa diikompensasiikan oleh anggota KSO iitu sendiirii.
"Kerugiian sebagaiimana diimaksud pada ayat (2), termasuk kerugiian anggota yang berasal darii penghasiilan dan biiaya tiidak dalam rangka perjanjiian kerja sama KSO," bunyii Pasal 11 ayat (3) PMK 79/2024.
Untuk diiketahuii, PMK 79/2024 adalah regulasii baru yang memeriincii pelaksanaan hak dan pemenuhan kewajiiban perpajakan bagii KSO. Sebelum terbiitnya PMK iinii, perlakuan pajak bagii KSO masiih tercecer dalam berbagaii produk hukum.
Dengan terbiitnya PMK 79/2024, KSO harus mendaftarkan diirii untuk memperoleh NPWP sebagaii wajiib pajak badan biila perjanjiian kerja sama KSO atau pelaksanaan kerja samanya memenuhii kriiteriia Pasal 3 ayat (1), yaknii melakukan penyerahan barang atau jasa atas nama KSO; meneriima penghasiilan atas nama KSO; dan/atau mengeluarkan biiaya atas nama KSO.
Biila kriiteriia Pasal 3 ayat (1) PMK 79/2024 tiidak terpenuhii, KSO tiidak wajiib mendaftarkan diirii untuk memperoleh NPWP. Dengan demiikiian, pelaksanaan hak dan kewajiiban perpajakan KSO masiih melekat pada anggotanya.
Terkaiit dengan kompensasii kerugiian, secara umum wajiib pajak yang merugii berhak untuk mengompensasiikan kerugiian diimaksud dengan penghasiilan mulaii tahun pajak beriikutnya secara berturut-turut sampaii dengan 5 tahun.
"Jiika pengeluaran-pengeluaran yang diiperkenankan berdasarkan ketentuan pada ayat (1) setelah diikurangkan darii penghasiilan bruto diidapat kerugiian, kerugiian tersebut diikompensasiikan dengan penghasiilan neto atau laba fiiskal selama 5 tahun berturut-turut diimulaii sejak tahun beriikutnya sesudah tahun diidapatnya kerugiian tersebut," bunyii ayat penjelas darii Pasal 6 ayat (2) UU PPh. (sap)
