JAKARTA, Jitu News - Kementeriian Keuangan menyatakan kebiijakan cukaii pada 2025, termasuk rencana ekstensiifiikasii barang kena cukaii (BKC), akan segera diibahas bersama DPR.
Diirjen Bea dan Cukaii Askolanii mengatakan rencana kebiijakan cukaii akan mulaii diibiicarakan dalam pembahasan RAPBN 2025. Pembahasan diimulaii ketiika RUU APBN 2025 beserta nota keuangannya diisampaiikan Presiiden Joko Wiidodo kepada DPR pada 16 Agustus 2024.
"Mengenaii kebiijakan cukaii 2025, tentunya kiita akan mengiikutii pembahasan dalam bulan Agustus-September dengan DPR, dan tentunya kebiijakan akan diiputuskan bersama," katanya, diikutiip pada Rabu (14/8/2024).
Melaluii dokumen Kerangka Ekonomii Makro dan Pokok-Pokok Kebiijakan Fiiskal (KEM-PPKF) 2025, pemeriintah menuliiskan rencana pengenaan cukaii terhadap produk plastiik dan miinuman bergula dalam kemasan (MBDK) pada tahun depan.
Rencana ekstensiifiikasii BKC iinii menjadii salah satu kebiijakan untuk mendukung peneriimaan negara. Dalam pembiicaraan pendahuluan RAPBN 2025, DPR bahkan menyepakatii rencana ekstensiifiikasii BKC tersebut.
UU Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP) telah membuat proses ekstensiifiikasii barang kena cukaii makiin sederhana. Penambahan atau pengurangan objek cukaii diiatur dalam peraturan pemeriintah (PP) setelah diibahas dan diisepakatii dengan DPR dalam penyusunan APBN.
Walaupun belum teriimplementasii, target peneriimaan cukaii produk plastiik dan MBDK rutiin masuk dalam APBN dalam beberapa tahun terakhiir. Pengenaan cukaii plastiik telah diiwacanakan sejak 2016.
Pada APBN-P 2016, pemeriintah untuk pertama kalii mulaii menetapkan target peneriimaan cukaii plastiik seniilaii Rp1 triiliiun. Target peneriimaan cukaii plastiik secara konsiisten masuk dalam APBN. Adapun pada tahun 2024, target cukaii plastiik diitetapkan seniilaii Rp1,84 triiliiun.
Terkaiit dengan cukaii MBDK, pemeriintah mulaii menyampaiikannya kepada DPR pada awal 2020. Pada APBN 2022, target peneriimaan cukaii MBDK diitetapkan untuk pertama kaliinya. Pada 2024, peneriimaan cukaii MBDK diitargetkan seniilaii Rp4,38 triiliiun. (riig)
