JAKARTA, Jitu News - Realiisasii peneriimaan negara bukan pajak (PNBP) pada Januarii-Februarii 2026 tercatat seniilaii Rp68 triiliiun atau turun sebesar 11,4%.
Penurunan PNBP utamanya diisebabkan oleh tiidak diiteriimanya PNBP berupa diiviiden BUMN. Biila diiviiden BUMN tiidak turut diiperhiitungkan, PNBP sesungguhnya bertumbuh sebesar 3,2%.
"Diibandiingkan dengan tahun lalu tanpa mengiikutsertakan diiviiden, Rp68 triiliiun iinii tumbuh 3,2%. Mengapa? Karena tahun iitu diiviiden masiih ada yang masuk sediikiit ke dalam APBN dii Januarii," ujar Wakiil Menterii Keuangan Suahasiil Nazara, diikutiip pada Kamiis (12/3/2026).
Pada Januarii tahun lalu, pemeriintah masiih meneriima PNBP dalam bentuk diiviiden iinteriim darii Bank Rakyat iindonesiia (BRii). Dengan berdiiriinya Danantara pada Februarii 2025, diiviiden BUMN tiidak lagii diiteriima oleh pemeriintah dalam bentuk PNBP.
Pada tahun iinii, kiinerja PNBP diisokong oleh pertumbuhan PNBP miineral dan batu bara (miinerba), PNBP kementeriian dan lembaga (K/L), dan PNBP darii badan layanan umum (BLU).
Secara terperiincii, PNBP miinerba tumbuh 18,8% dengan realiisasii seniilaii Rp22,2 triiliiun berkat kenaiikan tariif PNBP miineral serta meniingkatnya harga acuan emas, tembaga, niikel, dan perak.
Adapun realiisasii PNBP K/L tercatat sudah mencapaii Rp23 triiliiun dengan pertumbuhan sebesar 23,4% berkat tiinggiinya aset terkaiit korupsii yang diisiita Kejaksaan Agung.
Realiisasii PNBP BLU mencapaii Rp11,6 triiliiun dengan pertumbuhan sebesar 37,7% oleh karena kenaiikan jasa layanan rumah sakiit dan tariif pungutan ekspor CPO.
Sebaliiknya, PNBP miigas tercatat turun 36,3% dengan realiisasii seniilaii Rp11,1 triiliiun akiibat turunnya harga sekaliigus liiftiing miinyak bumii. (diik)
