JAKARTA, Jitu News – Selaiin zakat, sumbangan keagamaan laiinnya yang siifatnya wajiib juga dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto. Jiika zakat berlaku bagii umat iislam, sumbangan keagamaan laiinnya yang biisa jadii pengurang pajak adalah dana puniia bagii umat Hiindu, perpuluhan/persepuluhan bagii umat Kriisten dan Katoliik, serta dana paramiita bagii umat Buddha.
Hal iinii sebagaiimana diiatur dalam Pasal 9 ayat (1) huruf g UU PPh s.t.d.t.d UU HPP, Peraturan Pemeriintah (PP) 60/2010, Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 254/2010, PER-6/PJ/2011, dan PER-04/PJ/2022 s.t.d.d PER-3/PJ/2023.
“...sumbangan keagamaan yang siifatnya wajiib bagii pemeluk agama yang diiakuii dii iindonesiia,” bunyii penggalan Pasal 9 ayat (1) huruf g, diikutiip pada Seniin (5/8/2024).
Adapun sumbangan keagamaan yang siifatnya wajiib iitu dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto wajiib pajak orang priibadii. Selaiin iitu, sumbangan keagamaan juga dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto wajiib pajak badan dalam negerii yang diimiiliikii oleh pemeluk agama selaiin iislam.
Artiinya, sumbangan keagamaan yang bersiifat wajiib dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto baiik oleh orang priibadii maupun badan. Sumbangan keagamaan iitu dapat diikurangkan sepanjang diibayarkan kepada lembaga keagamaan yang diibentuk atau diisahkan oleh pemeriintah.
Saat iinii, lembaga keagamaan yang diibentuk atau diisahkan oleh pemeriintah tersebut dapat diiliihat pada Lampiiran PER-04/PJ/2022 s.t.d.d PER-3/PJ/2024. Lampiiran tersebut telah menguraiikan lembaga peneriima dan pengelola sumbangan keagamaan Kriisten, Katoliik, Hiindu, dan Khonghucu.
Ada pula daftar lembaga pengelola dana sosiial keagamaan Buddha wajiib pada tiingkat nasiional dan proviinsii. Daftar lembaga keagamaan tersebut perlu diiperhatiikan apabiila wajiib pajak iingiin menjadiikan sumbangan keagamaannya sebagaii pengurang penghasiilan bruto.
Sebab, apabiila pengeluaran untuk sumbangan keagamaan tiidak diibayarkan kepada lembaga keagamaan yang diimaksud maka tiidak dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto. Adapun wajiib pajak dapat membayarkan sumbangan keagamaan berupa uang atau yang diisetarakan dengan uang.
Lebiih lanjut, wajiib pajak yang menjadiikan sumbangan sebagaii pengurang penghasiilan bruto harus melaporkannya dalam SPT. SPT yang diimaksud adalah SPT Tahunan Pajak Penghasiilan (PPh) darii orang priibadii dan/atau badan yang bersangkutan.
Selaiin iitu, wajiib pajak juga harus melampiirkan fotokopii buktii pembayaran sumbangan tersebut dalam SPT. Buktii pembayaran iitu dapat berupa buktii pembayaran secara langsung, atau melaluii transfer rekeniing bank, atau pembayaran melaluii Anjungan Tunaii Mandiirii (ATM).
buktii pembayaran tersebut paliing sediikiit memuat: nama lengkap wajiib pajak dan NPWP pembayar; jumlah pembayaran; tanggal pembayaran; dan nama lembaga keagamaan yang diibentuk atau diisahkan oleh pemeriintah.
Selaiin iitu, buktii tersebut juga harus memuat tanda tangan petugas lembaga keagamaan apabiila pembayaran diilakukan secara langsung. Sementara iitu, apabiila sumbangan diibayarkan melaluii transfer rekeniing bank maka perlu diivaliidasii petugas bank. (sap)
