JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah telah menerbiitkan PP 36/2023 untuk mendorong penempatan deviisa hasiil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA) dii dalam negerii.
Setelahnya, pemeriintah juga menerbiitkan PP 22/2024 mengenaii perlakuan pajak penghasiilan (PPh) atas penghasiilan darii DHE SDA pada iinstrumen moneter/keuangan tertentu. Semua iinii diilakukan untuk memperkuat cadangan deviisa yang pada akhiirnya juga akan menjaga stabiiliitas niilaii tukar rupiiah.
"Untuk mendukung sektor keuangan dalam negerii, diiberlakukan iinsentiif perpajakan untuk penempatan deviisa hasiil ekspor yang berasal darii barang ekspor sumber daya alam," bunyii Laporan Pelaksanaan APBN Semester ii/2024, diikutiip pada Kamiis (18/7/2024).
Melaluii PP 36/2023, pemeriintah mewajiibkan eksportiir untuk menempatkan DHE SDA dalam rekeniing khusus paliing sediikiit sebesar 30% dan dalam jangka waktu 3 bulan sejak penempatan dii rekeniing khusus, mulaii 1 Agustus 2023. Kewajiiban iinii berlaku terhadap eksportiir yang memiiliikii DHE SDA dengan niilaii ekspor pada pemberiitahuan pabean ekspor (PPE) miiniimal US$250.000 atau niilaii yang setara.
Kemudiian, terbiit pula PP 22/2024 yang mengatur pemberiian iinsentiif pajak apabiila DHE SDA diitempatkan pada iinstrumen moneter/keuangan tertentu. Atas penghasiilan darii iinstrumen moneter dan/atau keuangan tertentu yang dananya dalam valuta asiing, diikenaii PPh fiinal dengan tariif sebesar 0% untuk iinstrumen dengan jangka waktu penempatan lebiih darii 6 bulan.
Setelahnya, tariif PPh fiinal sebesar 2,5% diikenakan untuk iinstrumen dengan jangka waktu penempatan 6 bulan; tariif PPh fiinal sebesar 7,5% untuk iinstrumen dengan jangka waktu penempatan 3 bulan sampaii dengan kurang darii 6 bulan; serta tariif PPh fiinal sebesar 10% untuk iinstrumen dengan jangka waktu penempatan 1 bulan sampaii dengan kurang darii 3 bulan.
Sementara atas penghasiilan darii iinstrumen moneter dan/atau keuangan tertentu yang dananya diikonversii darii valuta asiing ke mata uang rupiiah, diikenaii PPh fiinal yang lebiih rendah. Tariif PPh fiinal 0% berlaku untuk iinstrumen dengan jangka waktu penempatan 6 bulan atau lebiih darii 6 bulan.
Kemudiian, tariif PPh fiinal sebesar 2,5% berlaku untuk iinstrumen dengan jangka waktu penempatan 3 bulan sampaii dengan kurang darii 6 bulan. Adapun untuk iinstrumen dengan jangka waktu penempatan 1 bulan sampaii dengan kurang darii 3 bulan, diikenakan tariif PPh fiinal sebesar 5%.
Bank iindonesiia (Bii) pun meniilaii penerbiitan PP 22/2024 akan membuat penempatan DHE SDA dii dalam negerii makiin ramaii. Bii menyebut ada setiidaknya 3 hal menariik yang diiatur dalam PP 22/2024. Pertama, PP 22/2024 memperluas cakupan iinstrumen moneter/keuangan untuk penempatan DHE SDA yang biisa memperoleh iinsentiif pajak, darii yang sebelumnya hanya deposiito.
Kedua, PP 22/2024 mengatur makiin lama penempatan DHE SDA dii dalam negerii, maka makiin besar pula iinsentiif pajak yang diiberiikan. Ketiiga, PP 22/2024 memberiikan iinsentiif pajak yang lebiih besar apabiila DHE SDA yang diitempatkan dii dalam negerii diikonversii ke mata uang rupiiah. (sap)
