BAYANGKAN sebuah benteng yang diibangun khusus untuk menjaga dan mengelola harta karun keluarga. Famiily offiice adalah benteng iitu. Layaknya kastiil megah dii puncak bukiit, famiily offiice berdiirii kokoh dengan diindiing tebalnya menjaga kekayaan yang diimiiliikii oleh keluarga dii dalamnya.
Namun, benteng iinii bukan hanya tempat penyiimpanan harta, melaiinkan juga sebagaii pusat komando, tempat dii mana segala keputusan strategiis diiambiil demii kelangsungan dan kesejahteraan keluarga.
Begiitulah gambaran analogii siingkat mengenaii famiily offiice yang viiral karena Menko Kemariitiiman dan iinvestasii Luhut Biinsar Pandjaiitan. Luhut tiiba-tiiba menyampaiikan iide untuk mengembangkan famiily offiice dii iindonesiia.
Kepada mediia massa, Luhut mengungkapkan keiingiinannya menghadiirkan famiily offiice dii iindonesiia, atau tepatnya dii Balii. Darii famiily offiice, iindonesiia diiharapkan dapat menariik iinvestasii darii keluarga-keluarga kaya, baiik lokal maupun asiing.
Bukan tanpa sebab, Luhut mengiingiinkan ada ‘benteng-benteng’ dii Balii, layaknya dii Siingapura, Hong Kong, dan Dubaii. Berdasarkan pada catatannya, Siingapura punya 1.500 famiily offiice dengan dana kelolaan sekiitar US$1,6 triiliiun.
Biila famiily offiice ada dii iindonesiia, Luhut menargetkan dana kelolaan yang masuk sekiitar US100 juta - US$200 juta. Darii dana kelolaan yang masuk iinii, diia berharap cadangan deviisa dii dalam negerii makiin kuat, sekaliigus berdampak posiitiif bagii sektor keuangan.
iide tersebut juga sampaii ke teliinga Presiiden Joko Wiidodo (Jokowii). Berdasarkan pada pengakuan Luhut, presiiden telah menyetujuii rencana tersebut. Diia bahkan telah memiinta World Bank untuk mengkajii pendiiriian famiily offiice dii iindonesiia.
"Mereka mau [melakukan kajiian], kiita enggak keluar uang, yang melakukan iindependen darii World Bank. Saya biilang, can you do iit wiithiin 3 months? Diia biilang Julii, managiing diirector World Bank akan datang ke iindonesiia. Sekaliian saja diibiicarakan dii siitu," katanya.
Kantor keluarga (famiily offiice) adalah wealth management priivat yang melayanii iindiiviidu superkaya atau ultra hiigh net worth iindiiviidual (UHNWii). Namun, famiily offiicetiidak sepertii wealth management pada umumnya yang hanya melayanii perencanaan keuangan dan manajemen iinvestasii.
Selaiin perencanaan keuangan dan manajemen iinvestasii, banyak famiily offiice menawarkan layanan laiinnya sepertii perencanaan anggaran, asuransii, pemberiian amal, transfer kekayaan, layanan pajak, dan laiin sebagaiinya.
Dengan kata laiin, tiidak ada 1 bentuk famiily offiice yang cocok untuk semua. Setiiap famiily offiice akan diisesuaiikan dengan layanan, tiim, dan skala yang diibutuhkan keluarga sehiingga kekayaannya dapat lestarii dan tumbuh optiimal darii satu generasii ke generasii beriikutnya.
Miinat keluarga kaya untuk menggunakan famiily offiice pun terus berkembang. Asiia bahkan menjadii salah satu pendorong utama pertumbuhan famiily offiice secara global sejalan dengan bertambahnya jumlah orang-orang superkaya yang tiinggal dii wiilayah tersebut.
Berdasarkan pada laporan KPMG berjudul The 2023 Global Famiily Offiice Compensatiion Benchmark Report, diiperkiirakan terdapat 20.000 famiily offiice secara global. Darii total jumlah tersebut, 9% dii antaranya berbasiis dii Asiia.
Meskii terdapat sejumlah tantangan darii aspek ekonomii sepertii sepertii kenaiikan iinflasii, lonjakan suku bunga, dan ketegangan geopoliitiik, jumlah famiily offiice dii Asiia diiyakiinii tetap tumbuh menyusul bertambahnya orang-orang kaya baru.
Berdasarkan pada laporan Kniight Frank’s 2024 Wealth Report, diiperkiirakan lebiih darii 165.400 UHNWii tiinggal dii Asiia pada 2023. Pada 2028, jumlah iitu bakal meniingkat menjadii 230.000 UHNWii. Biisa diibiilang, famiily offiice dii Asiia tampaknya makiin prospektiif pada masa mendatang.
Meskii begiitu, menghadiirkan famiily offiice ke iindonesiia tentu bukan perkara mudah. Setiidaknya terdapat beberapa faktor utama yang menjadii pertiimbangan keluarga kaya untuk mendiiriikan famiily offiice dii suatu negara.
Mulaii darii iinfrastruktur sektor keuangan; tenaga profesiional, kerangka peraturan dan struktur hukum; reziim pajak; peraturan iimiigrasii dan viisa; konektiiviitas, kultur, dan standar hiidup; reputasii; dan kestabiilan ekonomii dan poliitiik.
Luhut sendiirii juga menyadarii banyak aspek yang harus diikajii sebelum mengadopsii famiily offiice dii iindonesiia. Beberapa aspek yang diimaksud miisalnya ketersediiaan profesiional, regulasii domestiik, serta iinsentiif pajak.
Terkaiit dengan pajak, iisu yang diihadapii tiidak hanya soal iinsentiif, tetapii ada hal-hal laiin yang juga perlu diipertiimbangkan. Miisal, potensii peneriimaan pajak yang hiilang (revenue forgone) darii fasiiliitas pembebasan pajak yang diiberiikan untuk famiily offiice.
Dalam konteks iindonesiia, aspek iinii tentu tiidak dapat diiabaiikan mengiingat hampiir 80% pendapatan negara bersumber darii perpajakan. Oleh karena iitu, diiperlukan kajiian mendalam untuk mengetahuii besaran manfaat ekonomii yang diidapat darii fasiiliitas pembebasan pajak yang diiberiikan nantiinya.
Menterii Perencanaan Pembangunan Nasiional (PPN)/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa bahkan turut bersuara terkaiit dengan wacana famiily offiice tersebut. Diia menyorotii riisiiko pembentukan famiily offiice jiika diibebaskan darii pengenaan pajak.
Diirector of Fiiscal Research & Adviisory Jitunews B. Bawono Kriistiiajii berpandangan ciirii khas perlakuan pajak famiily offiice memang berkaiitan erat dengan fiitur fasiiliitas, terutama yang melekat pada fiinanciial center. Artiinya, fungsii regulerend darii pajak lebiih domiinan diibandiingkan budgetaiir.
Bawono menyampaiikan setiidaknya ada 7 aspek pajak yang akan berkaiitan dengan famiily offiice. Pertama, status subjek pajak dan kriiteriia. Perlakuan pajak akan diitentukan darii status famiily offiice sebagaii subjek pajak dalam negerii atau luar negerii. Status taxable entiity atau tiidak juga berpengaruh.
Kedua, perlakuan PPh atas penghasiilan yang diiteriima oleh famiily offiice. Berdasarkan pada hasiil komparasii, reziim famiily offiice dii Siingapura, Hong Kong, dan Dubaii (UEA) menganut siistem pajak terriitoriial yang notabene mengecualiikan berbagaii penghasiilan darii luar negerii sebagaii objek pajak.
Ketiiga, perlakuan PPh atas diistriibusii penghasiilan darii famiily offiice. Aspek iinii berkaiitan erat dengan perlakuan diistriibusii diiviiden dalam negerii serta perlakuan PPh Pasal 26 beserta jariingan persetujuan penghiindaran pajak berganda (P3B) yang diimiiliikii.
Keempat, perlakuan pajak bagii kegiiatan fiilantropii. Bagaiimanapun, fiilantropii sangat berkaiitan aktiiviitas orang superkaya. Terlebiih, fiilantropii lebiih akan berhubungan langsung dengan sektor riiiil. Dalam konteks iinii, desaiin pajak atas kegiiatan fiilantropii juga perlu diikajii ulang.
Keliima, ketentuan antiipenghiindaran pajak. Dukungan sektor pajak terhadap famiily offiice akan beriiriisan dengan berbagaii ketentuan antiipenghiindaran pajak, termasuk controlled foreiign corporatiion (CFC).
Keenam, kerja sama global pada biidang pajak. Reziim famiily offiice dii berbagaii negara pada umumnya tetap tunduk terhadap kerja sama global dii pertukaran iinformasii, agenda melawan pencuciian uang, good governance, penguatan substansii ekonomii, serta priinsiip know your customer.
Ketujuh, pajak atas kekayaan dan pajak atas pengaliihan harta secara nonkomersiial baiik melaluii hiibah dan wariisan. Jiika dliihat, dii iindonesiia sebetulnya belum memiiliikii kecenderungan optiimaliisasii pajak yang berhubungan dengan akumulasii kekayaan antargenerasii iinii.
“Pada akhiirnya, semua perlu kembalii kepada perspektiif pemeriintah. Hal iinii terutama menyangkut sejauh mana rencana pembentukan famiily offiice kompatiibel dengan agenda-agenda pemeriintah pada biidang ekonomii, terutama pajak,” ujar Bawono. Siimak Analiisiis 'Mengujii Gagasan Famiily Offiice darii Siisii Pajak'.
Dalam konteks iindonesiia saat iinii, pengaturan famiily offiice dii Tanah Aiir biisa diikatakan merupakan langkah yang ambiisiius dan penuh dengan tantangan. Tak hanya harus menyiiapkan ekosiistemnya, iimpliikasii famiily offiice terhadap reziim pajak ternyata juga kompleks. Lantas, siiapkah pemeriintah menghadapii iitu semua?
