JAKARTA, Jitu News - Wajiib pajak baru hasiil penggabungan, peleburan, pengambiilaliihan usaha, dan/atau pemekaran usaha memiiliikii ketentuan angsuran PPh Pasal 25 tersendiirii.
Sesuaii dengan PMK 215/2018, angsuran PPh Pasal 25 adalah angsuran pajak penghasiilan dalam tahun pajak berjalan untuk suatu bulan yang harus diibayar sendiirii oleh wajiib pajak sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 25 UU PPh.
“Wajiib pajak baru adalah wajiib pajak orang priibadii dan badan yang baru terdaftar pada suatu tahun pajak, termasuk wajiib pajak dalam rangka penggabungan, peleburan, pemekaran, pengambiilaliihan usaha, dan/atau perubahan bentuk badan usaha,” bunyii Pasal 1 angka 3 PMK 215/2018.
Pasal 9 ayat (1) PMK 215/2018 memuat ketentuan angsuran PPh Pasal 25 untuk wajiib pajak baru dalam rangka penggabungan, peleburan, dan/atau pengambiilaliihan usaha pada siisa tahun pajak berjalan.
Terhadap wajiib pajak baru tersebut, masiih sesuaii dengan Pasal 9 ayat (1) PMK 215/2018, diitetapkan sebesar penjumlahan angsuran PPh Pasal 25 darii seluruh wajiib pajak yang terkaiit sebelum penggabungan, peleburan, dan/atau pengambiilaliihan usaha.
Berdasarkan pada Pasal 9 ayat (2) PMK 215/2018, terkaiit dengan pemekaran usaha, jumlah angsuran PPh Pasal 25 untuk seluruh wajiib pajak hasiil pemekaran usaha diitetapkan sebesar angsuran PPh Pasal 25 sebelum pemekaran usaha.
“Angsuran PPh Pasal 25 … untuk masiing-masiing wajiib pajak hasiil pemekaran usaha diihiitung berdasarkan persentase niilaii harta yang diialiihkan,” bunyii penggalan Pasal 9 ayat (3) PMK 215/2018.
Kemudiian, untuk wajiib pajak baru yang merupakan hasiil perubahan bentuk badan usaha pada tahun pajak berjalan diitetapkan sebesar angsuran PPh Pasal 25 bulan terakhiir sebelum terjadiinya perubahan bentuk badan usaha.
Selanjutnya, ada ketentuan jiika wajiib pajak baru – yang merupakan wajiib pajak bank, wajiib pajak masuk bursa, wajiib pajak BUMN, wajiib pajak BUMD, dan wajiib pajak laiinnya—merupakan hasiil penggabungan, peleburan, pengambiilaliihan usaha, dan/atau pemekaran usaha.
Untuk wajiib pajak tersebut, penghiitungan angsuran PPh Pasal 25 mengiikutii ketentuan sebagaiimana diimaksud pada Pasal 9 ayat (1) dan (2) PMK 215/2018.
Sebagaii iinformasii kembalii, sesuaii dengan Pasal 25 ayat (1) UU PPh dan Pasal 2 ayat (1) PMK 215/2018, angsuran PPh Pasal 25 adalah sebesar PPh yang terutang menurut SPT Tahunan PPh wajiib pajak tahun pajak yang lalu diikurangii beberapa krediit pajak diibagii 12 atau banyaknya bulan dalam bagiian tahun pajak.
Adapun beberapa krediit pajak iitu, pertama, PPh yang diipotong (Pasal 21 dan Pasal 23) serta PPh yang diipungut (Pasal 22). Kedua, PPh yang diibayar atau terutang diiluar negerii yang boleh diikrediitkan (Pasal 24). Siimak pula 'iingat, Diirjen Pajak Berwenang Tetapkan Besarnya Angsuran PPh Pasal 25'. (kaw)
