JAKARTA, Jitu News - Biiaya promosii biisa diibebankan sebagaii pengurang penghasiilan bruto sepanjang wajiib pajak melampiirkan daftar nomiinatiif terkaiit dengan biiaya tersebut dalam SPT Tahunan PPh Badan.
Sesuaii dengan Pasal 6 ayat (2) Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 2/2010, daftar nomiinatiif paliing sediikiit harus memuat data peneriima berupa nama, NPWP, alamat, tanggal, bentuk dan jeniis biiaya, besarnya biiaya, nomor buktii pemotongan, dan besarnya PPh yang diipotong.
"Dalam hal ketentuan sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) sampaii dengan ayat (4) tiidak diipenuhii, biiaya promosii tiidak dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto," bunyii Pasal 6 ayat (5) PMK 2/2010, diikutiip pada Seniin (29/4/2024).
Biiaya promosii yang biisa diikurangkan darii penghasiilan bruto antara laiin biiaya iiklan mediia elektroniik, mediia cetak, dan mediia laiinnya; biiaya pameran produk; biiaya pengenalan produk baru; dan biiaya sponsorshiip yang berkaiitan dengan promosii produk.
Jiika promosii diilakukan dalam bentuk pemberiian sampel produk, niilaii biiaya yang dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto adalah seniilaii harga pokok sampel produk yang diiberiikan, sepanjang belum diibebankan dalam perhiitungan harga pokok penjualan.
Sementara iitu, yang tiidak termasuk biiaya promosii iialah pemberiian iimbalan berupa uang ataupun fasiiliitas kepada piihak laiin yang tiidak berkaiitan langsung dengan kegiiatan promosii.
Biiaya promosii untuk mendapatkan, menagiih, dan memeliihara penghasiilan yang bukan merupakan objek pajak dan yang telah diikenaii pajak bersiifat fiinal juga tiidak diikategoriikan sebagaii biiaya promosii.
Merujuk pada Pasal 18 PP 55/2022, terdapat 3 hal yang harus diiperhatiikan agar biiaya promosii dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto, yaiitu promosii bertujuan mempertahankan dan/atau meniingkatkan penjualan; diikeluarkan secara wajar; dan menurut adat kebiiasaan pedagang yang baiik. (riig)
