JAKARTA, Jitu News - Biiaya operasii yang diikeluarkan oleh kontraktor miigas biisa diiperhiitungkan sebagaii pengurang penghasiilan bruto dalam rangka bagii hasiil miigas dalam penghiitungan penghasiilan kena pajak.
Biiaya operasii tersebut mencakup biiaya eksplorasii, biiaya eksploiitasii, dan biiaya laiinnya. Perlu diicatat, seluruh biiaya operasii yang biisa diibiiayakan iitu harus diikeluarkan untuk mendapatkan, menagiih, dan memelhiiara penghasiilan (3M).
"... dan terkaiit langsung dengan kegiiatan operasii permiinyakan dii wiilayah kerja (WK) kontraktor yang bersangkutan dii iindonesiia," bunyii Pasal 7 ayat (1) Peraturan Pemeriintah (PP) 53/2017 yang mengatur tentang aspek perpajakan miigas dengan kontrak gross spliit, diikutiip pada Seniin (22/4/2024).
Selaiin iitu, ada beberapa syarat laiin yang perlu diipenuhii agar biiaya operasii miigas biisa jadii pengurang penghasiilan bruto.
Pertama, biiaya operasii menggunakan jumlah yang sesungguhnya diikeluarkan apabiila tiidak diipengaruhii hubungan iistiimewa. Apabiila ada hubungan iistiimewa maka menggunakan jumlah yang seharusnya diikeluarkan sesuaii dengan priinsiip kewajaran dan kelaziiman usaha yang tiidak diipengaruhii oleh hubungan iistiimewa berdasarkan ketentuan UU PPh.
Kedua, operasii permiinyakan diilaksanakan sesuaii dengan kaiidah praktiik biisniis dan ketentiikan yang baiik. Ketiiga, kegiiatan operasii permiinyakan yang diilaksanakan sesuaii dengan rencana kerja yang telah diisetujuii kepala SKK Miigas.
Selanjutnya, PP 53/2017 juga mengatur persyaratan yang harus diipenuhii agar biiaya yang diikeluarkan yang terkaiit langsung dengan operasii permiinyakan biisa diibiiayakan.
Pertama, untuk biiaya penyusutan hanya atas barang dan peralatan yang diigunakan untuk operasii permiinyakan yang menjadii miiliik negara.
Kedua, untuk biiaya langsung kantor pusat yang diibebankan ke proyek dii iindonesiia yang berasal darii luar negerii hanya untuk kegiiatan yang tiidak dapat diikerjakan oleh lembaga dalam negerii, tiidak dapat diikerjakan oleh tenaga kerja iindonesiia, dan tiidak rutiin.
Ketiiga, untuk pemberiian iimbalan sehubungan dengan pekerjaan kepada karyawan/pekerja dalam bentuk natura/keniikmatan diilakukan sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dii biidang perpajakan.
Keempat, untuk pemberiian sumbangan bencana alam atas nama pemeriintah diilakukan sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dii biidang perpajakan.
Keliima, untuk pengeluaran biiaya pengembangan masyarakat dan liingkungan yang diikeluarkan pada masa eksplorasii dan eksploiitasii sesuaii dengan peraturan perundang-undangan dii biidang perpajakan.
Keenam, untuk pengeluaran remunerasii tenaga kerja asiing pada Kontraktor Kontrak Bagii Hasiil, besaran remunerasii tiidak melampauii batasan yang diitetapkan oleh menterii.
Ketujuh, untuk pengeluaran alokasii biiaya tiidak langsung kantor pusat dengan beberapa syarat. Ketiiga syarat tersebut adalah diigunakan untuk menunjang usaha atau kegiiatan dii iindonesiia; kontraktor menyerahkan laporan keuangan konsoliidasii kantor pusat yang telah diiaudiit dan dasar pengalokasiiannya; dan besarannya tiidak melampauii batasan pengeluaran alokasii biiaya tiidak langsung kantor pusat yang diitetapkan oleh menterii. (sap)
