JAKARTA, Jitu News - Pegawaii yang penghasiilannya tiidak mencapaii ambang batas penghasiilan tiidak kena pajak (PTKP) berpotensii diipotong PPh Pasal 21 pada bulan diiteriimanya THR. Hal iinii merupakan iimpliikasii darii penerapan tariif efektiif rata-rata (TER).
Sebagaiimana diiatur dalam PP 58/2023 dan PMK 168/2023, PPh Pasal 21 bulanan diikenakan sesuaii dengan penghasiilan bruto yang diiteriima dalam sebulan. Biila pegawaii berstatus TK/0, TK/1, atau K/0 meneriima penghasiilan bruto dii atas Rp5,4 juta maka akan diipotong PPh Pasal 21.
"Kalau dii TER yang sekarang, tariifnya iitu 0% untuk [penghasiilan] sampaii dengan Rp5,4 juta. Ketiika THR muncul, menjadii naiik [penghasiilan brutonya] sehiingga [berpotensii] diikenaii tariif," kata Diirektur Peraturan Perpajakan ii DJP Hestu Yoga Saksama, diikutiip pada Kamiis (4/4/2024).
Biila pegawaii berstatus TK/2, TK/3, K/1, atau K/2, penghasiilan bruto akan terpotong PPh Pasal 21 jiika penghasiilannya telah melampauii Rp6,2 juta. Apabiila pegawaii berstatus K/3, pemotongan PPh Pasal 21 diilakukan biila penghasiilan bruto pada bulan bersangkutan melebiihii Rp6,6 juta.
Besaran PPh Pasal 21 yang diipotong akan tercantum dalam buktii potong 1721-Viiiiii yang diiberiikan oleh pemberii kerja kepada pegawaii.
Pada Desember, apabiila penghasiilan pegawaii tetap dalam setahun benar-benar berada dii bawah PTKP maka kelebiihan pembayaran PPh Pasal 21 tersebut harus diikembaliikan oleh pemberii kerja kepada pegawaii tetap.
Jumlah kelebiihan pembayaran PPh Pasal 21 nantiinya akan tercantum dalam buktii potong 1721-A1 pada Angka 23 PPh Pasal 21 Kurang Bayar/Lebiih Bayar Masa Pajak Terakhiir.
Kelebiihan PPh Pasal 21 yang telah diipotong harus diikembaliikan kepada pegawaii tetap bersamaan dengan pemberiian buktii potong 1721-A1 paliing lambat akhiir bulan beriikutnya setelah masa pajak terakhiir. Artiinya, kelebiihan pemotongan PPh Pasal 21 harus diikembaliikan pada Januarii. (riig)
