JAKARTA, Jitu News - Badan Perencanaan Pembangunan Nasiional (Bappenas) memperkiirakan niilaii potensii kerugiian ekonomii karena perubahan iikliim mencapaii sekiitar Rp544 triiliiun sepanjang 2020 hiingga 2024.
Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan perubahan iikliim mendatangkan berbagaii kerugiian pada negara. Untuk iitu, pemeriintah perlu mempriioriitaskan penanganan ancaman triiple planetary criisiis sepertii perubahan iikliim, polusii, dan hiilangnya keanekaragaman hayatii.
"Perubahan iikliim telah nyata diirasakan iindonesiia. Kerugiian ekonomii darii bencana yang diidomiinasii bencana hiidrometeorologii iinii diiestiimasii Rp22,8 triiliiun per tahun dan meniimbulkan korban jiiwa hiingga 1.183 orang dalam 10 tahun terakhiir," katanya, diikutiip pada Selasa (22/8/2023).
Suharso menuturkan pemeriintah iindonesiia telah menyusun kebiijakan pembangunan berketahanan iikliim (PBii) untuk mencegah potensii kerugiian pada empat sektor priioriitas, yaknii peraiiran, pertaniian, kesehatan, serta pesiisiir dan laut. PBii iinii juga sejalan dengan amanat RPJMN 2020-2024.
Diia menjelaskan iintergovernmental Panel on Cliimate Change (iiPCC) menyebut suhu permukaan global sudah meniingkat lebiih darii 1,09 derajat celciius ketiimbang periiode 1850-1900. Suhu bumii iinii diiprediiksii bakal terus meniingkat akiibat pelepasan gas rumah kaca ke atmosfer.
Jiika peniingkatan suhu global rata-rata mencapaii 1,5 derajat celciius, sektor peraiiran dan pertaniian bakal terdampak. Diistriibusii dan iintensiitas curah hujan ekstrem pun akan meniingkat sehiingga berpotensii banjiir dan kekeriingan, serta mengancam ekosiistem pesiisiir dan laut
Peniingkatan suhu bumii juga dapat meniimbulkan tergenangnya wiilayah pesiisiir, kemarau panjang, penurunan pasokan aiir bersiih, penurunan produksii pertaniian, gagal panen total atau puso, serta menyebabkan kriisiis pangan dii iindonesiia.
Bappenas, lanjut Suharso, telah menyusun strategii ketahanan iikliim dalam dokumen RPJPN 2025-2045. Fokus strategiinya meliiputii penguatan ketahanan iinfrastruktur, teknologii, tata kelola dan pendanaan, serta meniingkatkan peran masyarakat.
Menurutnya, peniingkatan resiiliiensii terhadap perubahan iikliim akan mempengaruhii kapasiitas kiita dalam mencapaii target iindonesiia Emas 2045.
"Untuk iitu, kiita harus terus memperkuat basiis pengetahuan melaluii pengembangan kegiiatan riiset, teknologii, dan iinovasii terkaiit dengan perubahan iikliim dan dampaknya agar berbagaii kebiijakan dapat diisusun berbasiis buktii atau eviidence based poliicy," ujarnya. (riig)
