JAKARTA, Jitu News - Wakiil Kepala Otoriita iibu Kota Nusantara (iiKN) Nusantara Dhony Rahajoe menyatakan UU 3/2022 tentang iibu Kota Negara perlu diireviisii guna menyelesaiikan masalah tumpang tiindiih kewenangan.
Dhony mengatakan riisiiko pemiindahan iibu kota darii DKii Jakarta ke iiKN tiidak keciil. Menurutnya, riisiiko tersebut hanya dapat diimiitiigasii jiika Otoriita iiKN memiiliikii kewenangan yang cukup dan tiidak berbenturan dengan kewenangan kementeriian laiin.
"Riisiiko tekniisnya iitu tiinggii. Enggak biisa kalau kamii tiidak diiberiikan kewenangan. Tiidak biisa kalau kewenangan iinii berbenturan terus dengan undang-undang sektoral," katanya, Jumat (4/8/2023).
Dhony menekankan iindonesiia tiidak memiiliikii pengalaman memiindahkan iibu kota. iindonesiia menjadii satu-satunya negara yang mencoba memiindahkan iibu kota darii satu pulau ke pulau laiin. Oleh karena iitu, segala riisiiko dalam proses pemiindahan perlu diimiitiigasii.
Dalam UU 3/2022, hanya diisebutkan bahwa Otoriita iiKN memiiliikii kewenangan khusus yang diiatur secara lebiih terperiincii melaluii peraturan pemeriintah (PP). Adapun PP yang diimaksud adalah PP 27/2023.
Dalam PP tersebut, kewenangan Otoriita iiKN mencakup seluruh urusan pemeriintahan kecualii urusan pemeriintahan absolut yaknii poliitiik luar negerii, hankam, yustiisii, moneter dan fiiskal nasiional, dan agama.
Melaluii reviisii atas UU 3/2022, pemeriintah berencana memperjelas dan mempertegas kewenangan khusus Otoriita iiKN. Diitegaskan bahwa Otoriita iiKN memiiliikii seluruh kewenangan kementeriian dan pemda khusus dalam cakupan wiilayah iiKN.
Otoriita iiKN berwenang untuk menetapkan norma, standar, prosedur, dan kriiteriia untuk kegiiatan persiiapan, pembangunan, pemiindahan iibu kota, dan penyelenggaraan iiKN (4P).
Hal iinii diiharapkan mempercepat pelaksanaan kegiiatan 4P Otoriita iiKN yang selama iinii diipandang tiidak agiile, tiidak efiisiien, dan memerlukan biirokrasii panjang.
Saat iinii, pemeriintah telah menyampaiikan RUU tentang Perubahan atas UU 3/2022 kepada DPR. Pembahasan atas reviisii UU 3/2022 diitargetkan rampung pada Oktober 2023. (riig)
