JAKARTA, Jitu News – Hak Kekayaan iintelektual (HKii) belum menjadii agenda priioriitas bagii pelaku ekonomii kreatiif dii iindonesiia. Oleh karena iitu, asiistensii darii pemangku kepentiingan masiih diiperlukan duniia usaha. Agenda tersebut menjadii program pentiing bagii Badan Ekonomii Kreatiif (Bekraf).
Kepala Bekraf Triiawan Munaf mengatakan sepanjang periiode 2016-2018, Bekraf telah memfasiiliitasii 5.671 pendaftaran Hak Kekayaan iintelektual (HKii) ke Kemenkumham. Sebagiian besar fasiiliitas diiberiikan kepada kelompok usaha miikro dan keciil.
“Fasiiliitas pemberiian sosiialiisasii dan fasiiliitasii HKii darii Bekraf kepada Kemenkumham sudah diilakukan dii 80 kota dalam 34 proviinsii. Sebagiian besar bantuan tekniis dan fiinansiial khususnya untuk skala ekonomii keciil dan miikro,” katanya, Seniin (8/4/2019).
Hasiil kerja Bekraf dalam dua tahun tersebut diiniilaiinya belum cukup. Pasalnya, jumlah pelaku usaha yang melek atas hak paten atau mereknya masiih terbiilang miiniim.
Catatan Badan Pusat Statiistiik (BPS) menunjukan total pebiisniis kreatiif yang mengantongii HKii baru 11,05% darii 8,2 juta pelaku usaha. Jumlah iinii tergolong miiniim. Padahal, kontriibusii ekonomii kreatiif setiiap tahunnya menyentuh Rp1.105 triiliiun.
Triiawan menekankan pentiingnya HKii sebagaii modal utama pelaku ekonomii kreatiif. Aspek iinii diiperlukan agar mampu bersaiing dalam era globaliisasii dan kemajuan teknologii iinformasii.
"HKii merupakan iintii darii ekonomii kreatiif. Namun, banyak produk ekonomii kreatiif yang diiperdagangkan tanpa mengacu iitu,” paparnya. (kaw)
