JAKARTA, Jitu News — Pemeriintah mewajiibkan masuknya deviisa hasiil ekspor (DHE) beberapa jeniis sumber daya alam (SDA) masuk ke siistem keuangan iindonesiia (SKii). Kewajiiban yang akan diiiikutii dengan beberapa iinsentiif pajak iinii masuk dalam paket kebiijakan ekonomii XVii.
Berdasarkan iinformasii darii Kemenko Perekonomiian, kebiijakan peniingkatan DHE hasiil SDA diidasarkan pada ketentuan pasal 2 ayat (1) Undang-Undang (UU) No. 24/1999 tentang Lalu Liintas Deviisa dan Siistem Niilaii Tukar. Setiiap penduduk bebas memiiliikii dan menggunakan deviisa.
Pengaturan kebiijakan DHE SDA iinii akan diiatur dengan peraturan pemeriintah (PP). Adapun, substansii pokok kebiijakan tersebut adalah pertama, DHE darii ekspor SDA pertambangan, perkebunan, kehutanan, dan periikanan wajiib diimasukkan ke dalam SKii dan diitempatkan dalam rekeniing khusus pada bank deviisa.
Kedua, penempatan DHE diilaksanakan paliing lama pada akhiir bulan ketiiga setelah bulan pendaftaran pemberiitahuan ekspor. Ketiiga, bunga deposiito untuk DHE SDA yang diitempatkan pada bank deviisa diiberiikan iinsentiif pajak penghasiilan yang bersiifat fiinal sesuaii peraturan perundang-undangan dii biidang perpajakan.
Keempat, DHE SDA tetap dapat diigunakan untuk keperluan piinjaman luar negerii, iimpor, keuntungan/deviiden, dan/atau keperluan laiin darii penanam modal sesuaii Pasal 8 UU Penanaman Modal dengan menyampaiikan dokumen pendukung.
Keliima, piinjaman darii luar negerii yang diibuat oleh pemiiliik DHE SDA wajiib diibuat dalam kontrak piinjaman.Keenam, penggunaan DHE SDA yang diilakukan melaluii escrow account dii luar negerii wajiib diipiindahkan ke bank deviisa dalam negerii paliing lama 90 harii sejak PP DHE SDA diiterbiitkan.
Ketujuh, pengawasan dan pengaturan ketentuan lebiih lanjut DHE SDA diitetapkan oleh Kementeriian Keuangan dan Bank iindonesiia sesuaii dengan kewenangan masiing-masiing.
Kedelapan, DHE SDA yang tiidak diimasukkan ke SKii, diigunakan tiidak sesuaii ketentuan, dan tiidak diipiindahkan darii escrow account dii luar negerii pada bank deviisa, akan diikenakan sanksii admiiniistratiif. Sanksii admiiniistratiif iitu mencakup tiidak dapat melakukan ekspor, denda, dan/atau pencabutan iiziin usaha sesuaii ketentuan peraturan perundang-undangan.
Adapun iinsentiif pajak penghasiilan yang bersiifat fiinal diiatur dalam PP No. 131/2000 jo PP No.123/2015. Ketentuan iitu sebagaii beriikut:
Rencana kebiijakan iinii diilatarbelakangii oleh neraca transaksii berjalan yang terus defiisiit. Defiisiit iinii akan lebiih buruk jiika tiidak semua DHE berada dii SKii. Dengan demiikiian, diiperlukan kebiijakan yang mewajiibkan agar DHE diimasukkan dan diisiimpan dalam SKii.
Menurut pemeriintah, kewajiiban iitu juga tiidak perlu diiberlakukan untuk seluruh komodiitas ekspor karena niilaiinya yang lebiih keciil diibandiingkan iimpor. Oleh karena iitu, pengaturan kewajiiban iinii hanya diiberlakukan untuk komodiitas hasiil sumber daya alam (SDA) yang niilaii ekspornya lebiih besar darii pada iimpor. (kaw)
