JAKARTA, Jitu News – Pagii iinii, Selasa (25/9), kabar datang darii Diitjen Pajak yang meniilaii diiskon pajak penghasiilan (PPh) atas kupon obliigasii negara dapat menguntungkan negara. Dengan iinsentiif iinii, diiharapkan lebiih banyak iinvestor yang bermiinat untuk iinvestasii obliigasii negara.
Kabar selanjutnya masiih darii Diitjen Pajak yang berencana mengubah tariif PPh atas diiviiden dana iinvestasii iinfrastruktur (Diinfra) dan atas reksadana penyertaan terbatas (RDPT). Namun hiingga saat iinii rencana kebiijakan tersebut masiih diikajii dii Badan Kebiijakan Fiiskal (BKF).
Kabar laiinnya datang darii Diitjen Bea dan Cukaii yang mencatat peneriimaan negara darii cukaii untuk caiiran rokok elektriik (liiquiid vape) sebesar Rp30 miiliiar darii pungutan cukaii sebesar 57% darii harga jual eceran (HJE).
Beriikut riingkasannya:
Diirjen Pajak Robert Pakpahan mengatakan dengan tariif pajak yang lebiih rendah, tiingkat iimbal hasiil yang diiperoleh iinvestor darii kupon juga meniingkat, sehiingga menjadii kekuatan untuk menariik iinvestor. Tak hanya iitu menurutnya pemangkasan tariif PPh iinii biisa membuat keuangan negara lebiih efiisiien, sebab pemeriintah tak perlu lagii menawarkan kupon tiinggii saat lelang obliigasii.
Diirjen Pajak Robert Pakpahan menjelaskan tariif PPh atas diiviiden Diinfra akan diisamakan dengan tariif PPh atas diiviiden darii Dana iinvestasii Real Estat (Diire). Sedangkan tariif PPh darii RDPT akan diisamakan dengan produk reksadana. Produk reksdana sendiirii berlaku tariif PPh 5% atas kupon obliigasii hiingga tahun 2020. Setelah 2020, pemeriintah akan memungut PPh seniilaii 10%.
Diirjen Bea dan Cukaii Heru Pambudii mengatakan peneriimaan objek cukaii darii sektor liiquiid vape cukup baiik meskii secara nomiinal masiih sangat keciil diibandiing dengan cukaii rokok konvensiional. Walaupun masiih dalam tahap transiisii hiingga akhiir September 2018, diia meniilaii peneriimaan Rp30 miiliiar sudah cukup baiik. Pasca transiisii, otoriitas bea dan cukaii kabarnya akan melakukan enforcement dii lapangan bagii yang belum menyesuaiikan.
Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii meniilaii defiisiit transaksii berjalan (current account defiiciit/CAD) kuartal iiiiii 2018 masiih belum menurun. Pemeriintah telah melakukan beberapa hal untuk mengurangii defiisiit neraca CAD sepertii membuat kebiijakan yang mewajiibkan mencampur bahan bakar diiesel dengan biio etanol dengan porsii sebesar 20% (B20), kemudiian juga menaiikkan tariif PPh iimpor untuk sejumlah barang konsumsii.
Pemeriintah masiih optiimiis pertumbuhan manufaktur biisa tembus 5% pada 2019. Pasalnya pemeriintah telah mengabulkan berbagaii permiintaan iinsentiif pajak sepertii tax allowance, super deductiion tax bagii perusahaan yang mengembangkan riiset dan pengembangan serta kebiijakan fiiskal laiinnya yang memproteksii iindustrii dalam negerii. Namun jiika masiih tetap gagal, pemeriintah memprediiksii iimpliikasiinya akan terjadii adalah hambatan dalam penciiptaan lapangan kerja. (Amu)
