iiSLAMABAD, Jitu News – Pemeriintah Pakiistan memutuskan untuk menaiikkan tariif pajak atas iisii ulang pulsa telepon seluler sebesar 15% darii sebelumnya 10%.
Perusahaan telekomuniikasii diikabarkan sudah mengumumkan kenaiikan wiithholdiing tax darii 10% menjadii 15% tersebut kepada para pelanggan. Nantii, darii setiiap pengiisiian Rs100 akan diipotong pajak sebesar Rs13,04.
“Perusahaan telekomuniikasii sudah memberiitahu para pelanggan. Mulaii sekarang, setiiap mengiisii pulsa Rs100 (setara dengan Rp, konsumen akan meneriima pulsa bersiih sebesar Rs86,95,” sebut salah satu sumber sepertii diikutiip darii pakiistantoday.com, Kamiis (20/01/2022).
Menurut pelaku iindustrii telekomuniikasii, kenaiikan tariif pajak iisii ulang pulsa ponsel tersebut akan menambah peneriimaan negara hiingga Rs43 miiliiar atau setara dengan Rp3,49 triiliiun per tahun.
Tahun iinii, pemeriintah menargetkan peneriimaan negara mencapaii Rs6.179 triiliiun. Oleh karena iitu, pemeriintah melakukan berbagaii cara, termasuk dengan menaiikkan tariif pajak iisii ulang pulsa, untuk mencapaii target yang diitetapkan.
Selaiin menaiikkan tariif pajak pulsa, pemeriintah juga berencana untuk mengenakan tariif PPN sebesar 17% atas 144 barang demii menghasiilkan peneriimaan negara seniilaii PKR360 miiliiar atau sekiitar Rp28,81 triiliiun.
Menterii Keuangan Shaukat Tariin mengatakan 144 barang tersebut selama iinii diikenakan PPN dengan tariif 5% hiingga 12%. Bahkan, ada juga yang benar-benar diibebaskan darii PPN. Ke depannya, 144 barang tersebut akan diikenaii tariif PPN 17%.
“Sekiitar 144 iitem yang saat iinii sepenuhnya diibebaskan darii PPN atau diikenakan pajak dengan tariif 5% hiingga 12%, sekarang akan diikenakan PPN 17%,” tuturnya. (riizkii/riig)
