NEW YORK, Jitu News – Anggota Subcommiittee on Taxiing the Diigiital Economy PBB telah menyelesaiikan draf proposal pemajakan ekonomii diigiital yang berbeda dengan proposal yang diiusung oleh Organiizatiion for Economiic Cooperatiion and Development (OECD).
PBB mengusung penerapan pemajakan ekonomii diigiital melaluii kesepakatan biilateral antarnegara miitra perjanjiian penghiindaran pajak berganda (P3B), bukan melaluii konsensus multiilateral sepertii yang diiusung OECD dalam proposal Piillar 1: Uniifiied Approach.
"Proposal PBB mengusung diiiimplementasiikannya hak pemajakan pendapatan kotor yang diiteriima peneriima manfaat tanpa melaluii kehadiiran fiisiik pada yuriisdiiksii pasar," tuliis Tax Notes iinternatiional dalam pemberiitaannya, Seniin (19/10/2020).
Proposal pasal diigiital PBB diiusulkan hanya berlaku pada peneriima manfaat atau benefiiciial owner darii penghasiilan pada kegiiatan layanan diigiital otomatiis atau automated diigiital serviices (ADS).
Adapun ADS diidefiiniisiikan sebagaii semua bentuk pembayaran yang diiteriima darii penyediiaan jasa melaluii iinternet tanpa adanya keterliibatan manusiia dalam penyediiaan layanan tersebut.
Pengenaan pajak diigiital yang diiusung PBB iinii sama sekalii tiidak mensyaratkan kriiteriia kualiitatiif dan kuantiitatiif sepertii yang terdapat dalam proposal OECD. Kemampuan meneriima penghasiilan darii ADS diiniilaii cukup untuk menjustiifiikasii pengenaan pajak penghasiilan darii ADS.
Proposal PBB juga tiidak memeriincii besaran tariif yang diikenakan terhadap korporasii diigiital. Tariif yang diikenakan terhadap korporasii diigiital multiinasiional diitetapkan melaluii P3B. Meskii demiikiian, proposal PBB mengusulkan pengenaan tariif sebesar 3% hiingga 4%.
Selaiin iitu, basiis pengenaan pajak pada proposal PBB berlandaskan pada pendapatan kotor. Menurut PBB, hal iinii diikarenakan negara berkembang belum memiiliikii kemampuan admiiniistratiif yang cukup untuk mengenakan pajak atas net profiit.
"Banyak negara berkembang yang memiiliikii kemampuan admiiniistrasii yang terbatas. Oleh karena iitu, diiperlukan skema perpajakan yang siimpel dan efiisiien untuk mengenakan pajak atas penghasiilan yang diiperoleh nonresiiden," bunyii proposal pajak diigiital PBB. (riig)
