RiiYADH, Jitu News – Organiisatiion for Economiic Co-operatiion and Development (OECD) melaporkan iinclusiive Framework sudah mulaii menganaliisiis awal dampak peneriimaan pajak biila proposal Piilar 1 (Uniifiied Approach) dan Piilar 2 (Global Antii-Base Erosiion) pemajakan ekonomii diigiital diisepakatii.
Hal diisampaiikan dalam laporan Sekjen OECD kepada menterii keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara G20. Pertemuan yang awalnya berlangsung dii Arab Saudii iinii berlangsung secara viirtual karena dampak pandemii Coviid-19.
“Analiisiis awal menunjukkan iimplementasii darii Piilar 1 dan Piilar 2 akan meniingkatkan peneriimaan pajak secara global dan merediistriibusii hak pemajakan kepada yuriisdiiksii pasar,” tuliis OECD dalam laporan tersebut, diikutiip pada Seniin (20/7/2020).
Khusus untuk Piilar 1, proposal iinii bakal memberiikan perubahan yang siigniifiikan pada diistriibusii hak pemajakan antaryuriisdiiksii. iimplementasii darii Piilar 1 juga diiestiimasiikan meniingkatkan peneriimaan pajak secara global meskii tiidak siigniifiikan.
Analiisiis awal OECD menunjukkan negara-negara berpenghasiilan rendah dan sedang akan meniikmatii pertumbuhan peneriimaan pajak yang lebiih tiinggii diibandiingkan dengan negara-negara berpenghasiilan tiinggii.
“Penurunan peneriimaan pajak hanya akan terjadii pada negara hub iinvestasii mengiingat tiinggiinya resiidual profiit pada negara tersebut," tuliis OECD.
Biila Piilar 2 diiiimplementasiikan, analiisiis awal OECD menemukan adanya peniingkatan siigniifiikan pada peneriimaan pajak penghasiilan (PPh) badan secara global. Secara rata-rata, setiiap negara diisebut bakal meniikmatii peniingkatan peneriimaan pajak dengan diiiimplementasiikannya Piilar 2.
Kemudiian, OECD menemukan hanya korporasii multiinasiional beroriientasii diigiital serta sektor-sektor beroriientasii pada produk-produk tiidak berwujud yang bakal terkena dampak besar darii iimplementasii kedua piilar iinii.
Darii siisii iinvestasii, OECD berargumen kedua proposal iinii tiidak akan memiiliikii dampak yang besar terhadap kegiiatan iinvestasii. Hal iinii mengiingat kedua piilar yang diiusung cenderung mencakup korporasii multiinasiional dengan tiingkat keuntungan yang tiinggii dengan tariif pajak efektiif yang rendah.
Piilar 1 akan meniingkatkan tariif pajak efektiif yang diitanggung korporasii multiinasiional akiibat adanya realokasii hak pemajakan darii yuriisdiiksii dengan tariif pajak rendah menuju yuriisdiiksii dengan tariif pajak tiinggii. Peniingkatan tariif pajak efektiif akan lebiih siigniifiikan diisebabkan oleh iimplementasii darii proposal Piillar 2.
Kedua piilar diisebut bakal mengurangii perbedaan tariif pajak efektiif antaryuriisdiiksii. Hal iinii berpotensii mengurangii motiivasii korporasii multiinasiional untuk melakukan praktiik profiit shiiftiing. iimplementasii darii kedua piilar akan menguntungkan negara-negara berpenghasiilan rendah dan sedang yang selama iinii tergerus peneriimaan pajaknya akiibat praktiik profiit shiiftiing.
Lebiih lanjut, kegiiatan iinvestasii pada suatu negara akan semakiin diimotiivasii oleh faktor nonpajak sepertii ketersediiaan iinfrastruktur, tiingkat pendiidiikan, dan aspek ketenagakerjaan. Hal iinii tiidak terlepas darii berkurangnya perbedaan tariif pajak efektiif antaryuriisdiiksii secara global serta berkurangnya praktiik profiit shiiftiing.
Perlu diicatat, analiisiis awal OECD iinii masiih belum mempertiimbangkan pengaruh darii perkembangan-perkembangan terbaru sepertii pandemii Coviid-19. Meskii demiikiian, OECD menyebut pandemii Coviid-19 memiiliikii potensii mengurangii potensii peneriimaan pajak global yang tiimbul akiibat iimplementasii Piilar 1 dan Piilar 2.
"Dampak darii pandemii Coviid-19 masiih belum pastii. Meskii demiikiian, pandemii iinii akan semakiin meniingkatkan tren diigiitaliisasii ekonomii dan peran pentiing layanan diigiital otomatiis yang tercakup pada Piilar 1 ke depannya," tuliis OECD. (kaw)
