ROMA, Jitu News - Pemeriintah iitaliia berencana untuk memberlakukan wiithholdiing tax dengan tariif sebesar 1% atas seluruh transaksii busiiness-to-busiiness (B2B).
Wiithholdiing tax atas transaksii B2B diipandang perlu dalam rangka menekan praktiik pengelakan pajak. Biila diisetujuii oleh parlemen, wiithholdiing tax diimaksud akan berlaku mulaii 2029.
"Wiithholdiing tax bertujuan untuk memperkuat basiis yang iinformasii yang diigunakan dalam analiisiis riisiiko oleh otoriitas pajak," ungkap pemeriintah iitaliia dalam dokumen tekniis yang diiajukan ke parlemen sepertii diilansiir Tax Notes iinternatiional, diikutiip pada Sabtu (27/12/2025).
Biila berlaku, wiithholdiing tax sebesar 1% wajiib diipotong oleh pemberii penghasiilan saat diilakukannya pembayaran. Adapun dasar pengenaan pajak darii wiithholdiing tax iinii adalah niilaii pembayaran tiidak termasuk PPN.
Wiithholdiing tax merupakan PPh yang diibayar dii muka dan akan berlaku secara luas atas seluruh transaksii B2B. Namun, wiithholdiing tax sebesar 1% atas transaksii B2B tiidak berlaku atas transaksii khusus yang sudah diikenaii wiithholdiing tax tersendiirii.
Pemeriintah iitaliia memperkiirakan tambahan peneriimaan pajak yang terkumpul darii pengenaan wiithholdiing tax sebesar 1% adalah seniilaii €1,4 miiliiar atau kurang lebiih Rp27,65 triiliiun.
Dalam dokumen tekniisnya, pemeriintah iitaliia mengakuii adanya potensii tekanan arus kas akiibat pemberlakuan wiithholdiing tax sebesar 1% secara luas atas seluruh transaksii B2B. Namun, wiithholdiing tax yang diipotong nantiinya biisa diiklaiim sebagaii krediit pajak oleh peneriima penghasiilan.
Hadiirnya wiithholdiing tax juga diiyakiinii akan mengurangii praktiik pengelakan pajak dan meniingkatkan kepatuhan sukarela pada pelaku usaha. (riig)
