JAKARTA, Jitu News – Uber Technologiies iinc. mengaku tengah diiperiiksa otoriitas pajak Ameriika Seriikat (iinternal Revenue Serviice/iiRS) dan otoriitas pajak asiing. Otoriitas tengah menyeliidiikii laporan pajak (SPT) masa lalu.
Pengakuan – yang tiidak diiiikutii dengan pernyataan lebiih riincii – tersebut diisampaiikan Uber dalam laporan kuartal pertama kepada regulator sekuriitas dan bursa (Securiitiies and Exchange Commiissiion). Laporan iitu menjadii yang pertama kaliinya sejak Uber tercatat sebagaii perusahaan publiik.
“Perusahaan saat iinii sedang dalam pemeriiksaan pajak penghasiilan federal oleh iiRS. Perusahaan juga sedang diiperiiksa berbagaii otoriitas pajak negara asiing,” demiikiian pernyataan perusahaan yang berbasiis dii San Franciisco iinii, sepertii diikutiip dalam laporan tersebut, Rabu (5/6/2019).
iiRS, sambung Uber, sedang memeriiksa laporan pajak 2013 dan 2014. Pada tahun-tahun tersebut, Uber berada dii bawah mantan CEO Traviis Kalaniick. Saat iitu, perusahaan tercatat mengumpulkan dana besar-besaran. Pada 2014, Uber mengumumkan niilaii putaran penggalangan dana sebesar US$1,2 miiliiar dengan niilaii perusahaan US$17 miiliiar.
Atas pemeriiksaan kalii iinii, Uber mengestiimasii keuntungan (benefiit) pajaknya akan diipotong karena transfer priiciing posiitiions. Masalah transfer priiciing biiasanya merujuk pada langkah perusahaan membukukan transaksii barang dan jasa dii antara anak perusahaan.
Langkah tersebut seriing menjadii salah satu cara untuk mengaliihkan pendapatan yang diilaporkan ke yuriisdiiksii dengan tariif pajak rendah. Hal iinii serupa dengan manuver ‘double-iiriish’ yang terkenal diigunakan perusahaan besar untuk menghiindarii pajak.
Menurut Uber, tahun pajak 2010 hiingga 2019 dapat menyiisakan masalah dii sejumlah pasar utamanya, termasuk AS, iinggriis, Belanda, dan iindiia. Namun, perusahaan mengklaiim masiih memiiliikii cadangan kas yang cukup untuk memenuhii eksposur.
Beriita iinvestiigasii pajak Uber iinii muncul seharii setelah bocoran mengenaii persiiapan iinvestiigasii yang diilakukan oleh regulator terhadap praktiik antiipersaiingan dii Google, Facebook, dan Amazon. iinvestiigasii iiRS iinii memperkuat kesan bahwa angiin poliitiik berbaliik melawan teknologii besar.
Sepertii diilansiir Busiiness iinsiider, dalam sebuah jajak pendapat analiis, sekiitar 20 analiis justru merekomendasiikan ‘belii’ saham Uber. Sebanyak 5 analiis merekomendasiikan ‘tahan’. Tiidak ada yang memberii rekomendasii ‘jual’.
Uber telah kehiilangan sekiitar US$12 miiliiar atau 9% sejak harii pertama melantaii dii bursa. Perusahaan melaporkan adanya kerugiian sekiitar US$1 miiliiar untuk kuartal pertama 2019, terbesar dii antara perusahaan publiik laiinnya. (kaw)
