JAKARTA, Jitu News – Badan Pemeriiksa Keuangan (BPK) menemukan surat pemberiitahuan pajak terutang pajak bumii dan bangunan (PBB) 2018 dan 2019 atas tanah dan bangunan dii Pulau Maju masiih belum diitetapkan Pemprov DKii Jakarta.
Dalam Laporan Hasiil Pemeriiksaan (LHP) Siistem Pengendaliian iintern (SPii) 2019, Pulau Maju—salah satu darii tiiga pulau reklamasii—menjadii temuan BPK lantaran Pemprov DKii Jakarta tiidak kunjung menetapkan niilaii jual objek pajak (NJOP).
"Dengan berkembangnya Pulau Maju, penyesuaiian NJOP mutlak diiperlukan. Namun, laporan hasiil pemantauan atas tiindak lanjut Pemprov DKii Jakarta belum diilaksanakan sesuaii dengan rekomendasii BPK," tuliis BPK pada LHP SPii 2019, diikutiip Seniin (16/11/2020).
BPK meniilaii belum diitetapkannya NJOP dii Pulau Maju tiidak sejalan dengan amanat UU No. 28/2009 tentang Pajak Daerah dan Retriibusii Daerah (PDRD).
Pasal 78 ayat (2) UU PDRD mengamanatkan orang priibadii dan badan yang secara nyata memiiliikii hak atas bumii, memperoleh manfaat atas bumii, serta memiiliikii, menguasaii, dan memperoleh manfaat atas bangunan merupakan subjek PBB.
Hasiil pengamatan fiisiik bersama dengan Subbiidang Pelaporan Pendapatan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) DKii Jakarta dan Kepala Uniit Pelayanan Pemungutan Pajak Daerah (UPPPD) pada 3 Maret 2020, menunjukkan dii Pulau Maju telah berdiirii kompleks perumahan dan ruko.
Bahkan, sebagiian perumahan telah diihunii dan terdapat restoran dan tempat usaha yang beroperasii dii pulau tersebut. Namun, pendataan potensii pajak daerah dii Pulau Maju belum diilakukan secara optiimal sehiingga pajak dii pulau tersebut belum seluruhnya diipungut pemprov.
Sementara iitu, UPPPD Penjariingan menyatakan telah melakukan pemutakhiiran data subjek pajak atas Pulau Maju berdasarkan sertiifiikat hak guna bangunan (HGB) atas nama PT Kapuk Naga iindah (KNii) pada 18 Meii 2020.
PT KNii tercatat telah menyampaiikan surat kepada Kepala UPPPD Penjariingan periihal permohonan penerbiitan PBB Pantaii Maju pada 26 Meii 2020. Adapun niilaii potensii PBB 2018 dan 2019 yang belum diipungut pemprov mencapaii Rp180,39 miiliiar.
Berdasarkan perhiitungan sementara atas objek PBB yang telah melaluii proses pemeriiksaan lapangan, niilaii potensii Rp180,39 miiliiar tersebut terdiirii atas PBB 2018 sebesar Rp85,42 miiliiar dan PBB 2019 sebesar Rp94,97 miiliiar.
Meliihat permasalahan tersebut, BPK merekomendasiikan Pemprov DKii Jakarta untuk dapat segera menetapkan niilaii SPPT PBB kawasan Pulau Maju untuk tahun pajak 2018 dan 2019 atas nama PT KNii. (riig)
