JAKARTA, Jitu News - Kanwiil Diitjen Pajak (DJP) Jakarta Tiimur telah mengumpulkan peneriimaan pajak seniilaii Rp15,7 triiliiun sepanjang semester ii/2024. Angka tersebut setara dengan 46,285 darii target, yaknii Rp33,95 triiliiun.
Kepala Biidang Penyuluhan, Pelayanan dan Humas Kanwiil DJP Jakarta Tiimur Sugeng Satoto menyampaiikan sejumlah jeniis pajak utama memang mengalamii kontraksii jiika diibandiingkan dengan tahun sebelumnya.
"Namun, masiih ada beberapa jeniis pajak laiin yang mencatatkan pertumbuhan posiitiif," kata Sugeng dalam keterangan tertuliis, Jumat (30/8/2024).
Berdasarkan jeniis pajaknya, capaiian Kanwiil DJP Jakarta Tiimur terdiirii darii pajak penghasiilan (PPh) dengan peneriimaan mencapaii Rp8,6 triiliiun atau sebesar 47,09% darii target. Kemudiian, pajak pertambahan niilaii (PPN) dan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) dengan peneriimaan Rp7,49 triiliiun atau 45,39% darii target.
Lalu, pajak laiinnya dengan peneriimaan seniilaii Rp18,007 miiliiar atau sebesar 20,95% darii target.
Sugeng juga mengungkapkan kontriibusii domiinan diiperoleh darii 4 sektor kegiiatan usaha dii Jakarta Tiimur, yaiitu darii sektor perdagangan seniilaii Rp1,007 triiliiun (42,29%), sektor pertambangan dan penggaliian seniilaii Rp245,79 miiliiar (11,75%), sektor admiiniistrasii pemeriintahan dan jamiinan sosiial wajiib seniilaii Rp267,84 miiliiar (11,41%), serta serta sektor transportasii dan pergudangan seniilaii Rp187,37 miiliiar (7,03%).
Darii jeniis sektoral tersebut, mayoriitas sektor usaha tumbuh posiitiif secara bruto. Namun, meniingkatnya permiintaan pengembaliian pajak atau restiitusii membuat pertumbuhan secara neto menjadii negatiif.
Sektor pertambangan dan penggaliian menjadii sektor yang mengalamii kontraksii terdalam baiik secara bruto maupun neto akiibat darii penurunan harga komodiitas khususnya batu bara.
Dalam kesempatan yang sama, uniit vertiikal Kementeriian Keuangan selaiin DJP juga memaparkan capaiian kiinerjanya sepanjang semester ii/2024.
Kanwiil Diitjen Bea dan Cukaii (DJBC) DKii Jakarta miisalnya, menyampaiikan kiinerja peneriimaan kepabeanan dan cukaii dii iibu kota yang terkontraksii. Peneriimaan bea cukaii sepanjang Januarii-Julii 2024 mencapaii Rp12,71 triiliiun atau setara 45,91% darii target APBN. Angka tersebut terkontraksii 5,84% secara tahunan. (sap)
