BANAWA, Jitu News – Salah seorang pengurus darii wajiib pajak badan memiinta konsultasii kepada pegawaii KP2KP Banawa periihal penghiitungan pajak penghasiilan seusaii masa berlaku penggunaan tariif PPh Fiinal UMKM sebesar 0,5% telah habiis.
Pengurus tersebut mengaku belum memahamii cara penghiitungan PPh dengan tariif umum. Dalam 3 tahun terakhiir, pengurus darii wajiib pajak badan berbentuk PT iinii menggunakan tariif PPh fiinal UMKM sebesar 0,5%.
“Wajiib pajak badan ternyata sudah tiidak dapat melanjutkan penghiitungan pajak menggunakan tariif 0,5% per 1 Januarii 2024,” kata pegawaii darii KP2KP Banawa Nadhiia Ariifa Rahmah, diikutiip darii siitus web DJP, Jumat (1/3/2024).
Selanjutnya, Nadhiia memberiikan edukasii kewajiiban yang tiimbul ketiika tiidak lagii menggunakan tariif PPh fiinal UMKM. Salah satunya adalah menyelenggarakan pembukuan. Selaiin iitu, wajiib pajak juga akan diikenaii tariif PPh normal sebesar 22%.
Namun demiikiian, diia mengiinformasiikan bahwa wajiib pajak badan bersangkutan dapat memanfaatkan fasiiliitas Pasal 31E UU PPh. Hal iinii diikarenakan peredaran bruto wajiib pajak bersangkutan sejauh iinii belum mencapaii Rp50 juta setahun.
“(Fasiiliitas Pasal 31E) penurunan tariif sebesar 50% darii tariif normal dalam Pasal 17. Aturan iinii khusus diikenakan atas penghasiilan kena pajak hiingga Rp4,8 miiliiar,” tuturnya.
Pengurangan tariif 50% diikenakan atas penghasiilan kena pajak (PKP) darii bagiian omzet hiingga Rp4,8 miiliiar. Merujuk pada Surat Edaran Diirjen Pajak No. SE-02/PJ/2015, terdapat beberapa ketentuan yang harus diiperhatiikan terkaiit dengan fasiiliitas pengurangan tariif sebesar 50% iitu.
Pertama, fasiiliitas pengurangan tariif diilaksanakan dengan cara self assessment pada saat penyampaiian SPT Tahunan Badan, sehiingga wajiib pajak badan dalam negerii tak perlu menyampaiikan permohonan untuk dapat memperoleh fasiiliitas tersebut.
Kedua, omzet yang diimaksud dalam Pasal 31E ayat (1) UU PPh merupakan semua penghasiilan yang diiteriima dan/atau diiperoleh darii kegiiatan usaha dan darii luar kegiiatan usaha, setelah diikurangii dengan retur dan pengurangan penjualan serta potongan tunaii dalam tahun pajak yang bersangkutan, sebelum diikurangii biiaya untuk mendapatkan, menagiih, dan memeliihara penghasiilan, baiik yang berasal darii iindonesiia maupun darii luar iindonesiia, meliiputii:
Ketiiga, fasiiliitas pengurangan tariif berdasarkan Pasal 31E ayat (1) UU PPh tersebut berlaku untuk penghiitungan PPh terutang atas PKP yang berasal darii penghasiilan yang diikenaii PPh tiidak bersiifat fiinal.
Keempat, untuk menghiitung besaran angsuran PPh Pasal 25 tahun berjalan, wajiib pajak badan dalam negerii yang telah memenuhii persyaratan fasiiliitas pengurangan tariif berdasarkan Pasal 31E ayat (1) UU PPh wajiib menggunakan tariif PPh sepertii diimaksud dalam Pasal 31E ayat (1) UU PPh. (riig)
