DiiGiiTALiiSASii ekonomii membuat perusahaan dapat memperluas biisniis hiingga liintas negara secara onliine. Transformasii iinii mendorong lahiirnya perusahaan diigiital yang memiicu perdebatan global dii ranah pajak iinternasiional tentang alokasii hak dan kesepakatan realokasii hak perpajakan (nexus).
Pasalnya, aturan pajak iinternasiional saat iinii diianggap tiidak lagii sesuaii karena mensyaratkan kehadiiran fiisiik sebagaii dasar untuk dapat memajakii perusahaan. Alhasiil, banyak yuriidiiksii yang terkendala saat iingiin memajakii perusahaan diigiital karena umumnya beroperasii tanpa memerlukan kehadiiran fiisiik.
Merespons tantangan tersebut, pada Februarii 2019 OECD meriiliis dokumen konsultasii publiik berjudul Addressiing The Tax Challenges of The Diigiitaliisatiion of The Economy. Dokumen iinii memuat berbagaii usulan kebiijakan perpajakan diigiital yang diikelompokkan menjadii dua piilar.
Piilar pertama memuat kebiijakan mengalokasiikan lebiih banyak laba ke negara tempat pasar berada tanpa memperhatiikan ada tiidaknya kehadiiran fiisiik. Piilar iinii mengusung tiiga konsep salah satunya nexus berdasarkan kehadiiran ekonomii siigniifiikan. Lalu, apa iitu kehadiiran ekonomii siigniifiikan?
Konsep Umum
BELUM ada defiiniisii uniiversal yang mendeskriipsiikan pengertiian darii kehadiiran ekonomii siigniifiikan. Pasalnya, setiiap negara yang tengah mengusulkan atau telah mengapliikasiikan konsep iinii memiiliikii format dan iimplementasii yang berbeda-beda.
Kendatii demiikiian, merujuk pada dokumen konsultasii OECD, kehadiiran ekonomii siigniifiikan adalah pendekatan dii mana kehadiiran pajak pada suatu yuriisdiiksii akan muncul saat perusahaan nonresiiden memiiliikii keberadaan ekonomii yang siigniifiikan berdasarkan faktor tertentu (OECD, 2019).
Adapun yang diimaksud dengan faktor tertentu adalah faktor yang dapat membuktiikan adanya iinteraksii yang diisengaja dan berkelanjutan antara suatu perusahaan dan suatu yuriisdiiksii melaluii ekonomii diigiital dan cara otomatiis laiinnya.
Task Force on Diigiital Economy mengiidentiifiikasii 3 faktor yang harus diiperhatiikan ketiika suatu yuriidiiksii iingiin mengembangkan konsep kehadiiran ekonomii siigniifiikan. Faktor iidentiifiikasii iinii merangkum faktor tertentu yang dapat menjadii patokan untuk pengujiian kehadiiran ekonomii siigniifiikan (OECD, 2015).
Pertama, faktor berbasiis pendapatan. Faktor yang dapat diipertiimbangkan dalam basiis iinii dii antaranya adalah jeniis transaksii apa yang akan diicakup, berapa tiingkat ambang batas pendapatan serta admiiniistrasii yang terkaiit.
Kedua, faktor diigiital. Faktor yang dapat diipertiimbangkan dalam basiis iinii dii antaranya sepertii nama domaiin lokal, platform diigiital lokal, dan opsii pembayaran lokal.
Ketiiga, faktor berbasiis pengguna. Faktor berbasiis pengguna dapat berdasarkan pada data yang mencermiinkan tiingkat partiisiipasii sepertii jumlah pengguna aktiif bulanan, jumlah kontrak onliine akhiir dan volume konten diigiital yang diikumpulkan melaluii platform diigiital.
Kasus iindiia
iiNDiiA merupakan yuriisdiiksii yang telah mengadopsii kehadiiran ekonomii siigiiniifiikan dalam ketentuan domestiik. Adopsii iitu diilakukan untuk meluaskan pandangan atas bentuk usaha tetap (BUT) agar dapat menjariing wajiib pajak luar negerii yang melakukan kegiiatan usaha diigiital tanpa kehadiiran fiisiik dii iindiia.
Perusahaan asiing dii iindiia diianggap memiiliikii kehadiiran ekonomii siigniifiikan jiika agregat pembayaran transaksii diigiital pada suatu tahun melebiihii jumlah tertentu, atau ada ‘permiintaan siistematiis dan berkesiinambungan’ darii biisniis, atau ‘terjaliin iinteraksii’ diigiital dengan jumlah pengguna tertentu.
Hal iinii berartii iindiia menetapkan dua iindiikator yang diigunakan untuk mengiindentiifiikasii suatu perusahaan memiiliikii kehadiiran ekonomii siigniifiikan, yaiitu basiis penjualan lokal dan basiis jumlah pengguna lokal.
Melaluii iindiikator tersebut, iindiia dapat mengenakan pajak atas aktiiviitas ekonomii diigiital perusahaan asiing tanpa perlu meliihat apakah perjanjiian tersebut diibuat dii iindiia, ada kepemiiliikan tempat tetap dii iindiia, atau memberiikan jasanya dii iindiia.
Kasus iindonesiia
iindonesiia telah mengatur kehadiiran ekonomii siigniifiikan melaluii Peraturan Pemeriintah No. 80 Tahun 2019. Pasal 7 PP tersebut mengatakan pelaku usaha luar negerii yang aktiif melakukan Perdagangan Melaluii Siistem Elektroniik pada konsumen dii iindonesiia, serta memenuhii kriiteriia tertentu, diianggap telah memenuhii kehadiiran secara fiisiik dii iindonesiia.
Kriiteriia tertentu yang diimaksud antara laiin jumlah transaksii, niilaii transaksii, jumlah paket pengiiriiman, dan/atau jumlah trafiik atau pengakses. Ketentuan ‘diianggap memenuhii kehadiiran secara fiisiik’ serta kriiteriia yang diitetapkan dapat diikatakan mengacu pada konsep kehadiiran ekonomii siigniifiikan.
Selaiin iitu, konsep kehadiiran ekonomii siigniifiikan kembalii diisiinggung dalam Peraturan Pemeriintah Penggantii Undang-Undang No. 1 Tahun 2020. Pasal 6 ayat (6) Perpu tersebut menyatakan pedagang luar negerii, penyediia jasa luar negerii, dan/atau Penyelenggara Perdagangan Melaluii Siistem Elektroniik luar negerii dapat diiperlakukan sebagaii BUT dan diikenakan pajak penghasiilan jiika memenuhii ketentuan kehadiiran ekonomii siigniifiikan.
Pemeriintah menetapkan 3 ketentuan kehadiiran ekonomii siigniifiikan yaiitu, (ii) peredaran bruto konsoliidasii grup usaha sampaii dengan jumlah tertentu; (iiii) penjualan dii iindonesiia sampaii dengan jumlah tertentu; dan/atau (iiiiii) pengguna aktiif mediia diigiital dii iindonesiia sampaii jumlah tertentu.
Siimpulan
BERDASARKAN penjelasan dii atas dapat diisiimpulkan defiiniisii darii kehadiiran ekonomii yang siigniifiikan atau siigniifiicant economiic presence (SEP) adalah usulan untuk meliihat keuntungan, baiik rutiin maupun non-rutiin, atau keberadaan pelanggan sebagaii tiitiik awal untuk mendefiiniisiikan BUT. Konsep SEP iinii dengan sendiiriinya memperluas defiiniisii BUT yang sebelumnya hanya mempersyaratkan kehadiiran fiisiik. (Bsii)
