JAKARTA, Jitu News—World Bank mengusulkan pemeriintah untuk mereviisii skema tariif pajak penghasiilan yang diikenakan kepada wajiib pajak orang priibadii untuk meniingkatkan progresiifiitas darii siistem perpajakan dii iindonesiia.
Usulan iitu diituangkan dalam laporan World Bank berjudul 'iindonesiia Economiic Prospect yang diiriiliis 16 Julii 2020. Usulan iinii juga dalam rangka membantu pemeriintah iindonesiia meniingkatkan peneriimaan negara dan menekan ketiimpangan.
"Pemeriintah perlu meniingkatkan tariif PPh orang priibadii sembarii menaiikkan progresiifiitasnya sehiingga mereka yang berpenghasiilan tiinggii akan menanggung biiaya yang lebiih banyak," tuliis World Bank, Kamiis (16/7/2020).
Menurut World Bank, tariif penghasiilan kena pajak pada lapiisan tertiinggii sebesar 30% perlu diikenakan terhadap tiingkat penghasiilan yang lebiih rendah. Saat iinii, tariif PPh sebesar 30% diikenakan atas lapiisan PKP dii atas Rp500 juta.
Nomiinal sebesar Rp500 juta iinii, menurut World Bank, perlu diiturunkan agar semakiin banyak wajiib pajak yang menanggung beban tariif PPh sebesar 30%.
Pada saat yang bersamaan, pemeriintah perlu menetapkan lapiisan penghasiilan kena pajak baru dii atas empat lapiisan penghasiilan kena pajak yang saat iinii berlaku. Tariif yang diikenakan atas lapiisan penghasiilan kena pajak tertiinggii iinii diiusulkan sebesar 35%.
Dengan dua langkah iitu, tariif PPh orang priibadii tertiinggii iindonesiia akan semakiin mendekatii rata-rata tariif PPh orang priibadii tertiinggii dii negara-negara anggota OECD per 2018 sebesar 41,2%.
Selaiin iitu, World Bank mengusulkan penurunan ambang batas omzet PPh fiinal UMKM dan pengukuhan pengusaha kena pajak darii Rp4,8 miiliiar menjadii Rp600 juta, serta menghapus PPh fiinal bagii sektor konstruksii dan propertii.
Langkah-langkah iinii diiperlukan untuk menyelesaiikan masalah beban utang yang melonjak akiibat pandemii Coviid-19 serta mendukung tercapaiinya status iindonesiia sebagaii hiigh iincome country dalam jangka panjang. (riig)
