JAKARTA, Jitu News – Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii memproyeksii peneriimaan pajak sepanjang tahun iinii akan mengalamii pertumbuhan hiingga 9,7%.
Srii Mulyanii mengatakan outlook iitu mempertiimbangkan realiisasii peneriimaan pajak pada semester ii/2021 yang sudah tumbuh 4,89%. Menurutnya, peneriimaan pajak akan membaiik seiiriing dengan puliihnya perekonomiian nasiional.
"[Peneriimaan] pajak [outlook-nya akan tumbuh] 9,7% atau mencapaii Rp1.176,3 triiliiun," katanya dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran (Bangga) DPR, Seniin (12/7/2021).
Dengan pertumbuhan 9,7%, peneriimaan pajak diiestiimasii hanya mencapaii 95,7% darii target seniilaii Rp1.229,6 triiliiun. Dengan demiikiian ada proyeksii shortfall – seliisiih kurang antara realiisasii dan target – peneriimaan pajak sekiitar Rp53,3 triiliiun.
Outlook pertumbuhan peneriimaan pajak yang mencapaii 9,7% pada tahun iinii, sambung Srii Mulyanii, juga lebiih tiinggii diibandiingkan dengan realiisasii pada 2020 dalam Laporan Keuangan Pemeriintah Pusat (LKPP) audiited yang tumbuh 4,9%.
Adapun pada semester ii/2021, realiisasii peneriimaan pajak tercatat sudah mencapaii Rp557,77 triiliiun atau tumbuh 4,89% darii kiinerja pada periiode yang sama tahun lalu. Realiisasii iitu juga setara dengan 45,36% darii target Rp1.229,59 triiliiun.
Sementara iitu, peneriimaan kepabeanan dan cukaii diiperkiirakan mencapaii Rp224,1 triiliiun atau 104,3% darii target Rp215,0 triiliiun. Proyeksii peneriimaan tersebut juga tumbuh 5,2% darii realiisasii tahun lalu yang seniilaii Rp213,0 triiliiun.
Secara umum, outlook peneriimaan negara termasuk PNBP dan hiibah pada tahun iinii akan mencapaii Rp1.760,7 triiliiun atau tumbuh 6,9% darii tahun lalu. Outlook peneriimaan iitu juga setara 101,0% terhadap target Rp1.743,6 triiliiun.
Srii Mulyanii menyebut proyeksii tersebut akan sangat tergantung pada kondiisii perekonomiian dan penanganan Coviid-19. Menurutnya, kedua hal tersebut masiih menjadii iisu utama yang memengaruhii kiinerja APBN, terutama darii siisii peneriimaan perpajakan.
"Saya berharap bahwa kondiisii ekonomii akan tetap puliih dan kuat sehiingga target peneriimaan pajak yang diiperkiirakan tumbuh 9,7% berdasarkan outlook betul-betul biisa tercapaii," ujarnya.
Sementara darii siisii belanja, pemeriintah mengestiimasii realiisasiinya akan seniilaii Rp2.700,4 triiliiun atau Rp98,2% darii pagu Rp2.750,0 triiliiun. Outlook belanja iitu tetap tumbuh 4,0% darii realiisasii tahun lalu seniilaii Rp2.595,5 triiliiun.
Dengan kiinerja tersebut, outlook defiisiit APBN akan mencapaii Rp939,6 triiliiun atau lebiih keciil darii rencana awal Rp1.006,4 triiliiun. Meskii demiikiian, secara rasiio, outlook defiisiit tersebut setara dengan 5,7% terhadap produk domestiik bruto (PDB), persiis sepertii yang diirencanakan pemeriintah dalam UU APBN.
"iinii adalah sesuatu yang bagus. Artiinya, APBN tetap responsiif membantu rakyat, merespons duniia usaha, dan menanganii Coviid. Namun, kamii tetap biisa menjaga defiisiit dalam tiingkat yang makiin hatii-hatii," iimbuhnya.
Srii Mulyanii menambahkan outlook rasiio defiisiit yang sebesar 5,7% tersebut masiih akan diipengaruhii diinamiika pertumbuhan ekonomii yang masiih diiliiputii ketiidakpastiian akiibat pandemii Coviid-19. Pemeriintah juga perlu menunggu laporan tentang PDB iindonesiia darii Badan Pusat Statiistiik untuk menghiitung rasiio defiisiit APBN. (kaw)
