JAKARTA, Jitu News – Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii memaparkan setiidaknya ada tiiga tantangan yang diihadapii darii siisii pajak penghasiilan (PPh) orang priibadii dan karyawan.
Pertama, dalam 5 tahun terakhiir, hanya 1,42% darii total jumlah wajiib pajak orang priibadii yang melakukan pembayaran dengan tariif tertiinggii (30%). Hanya 0,03% darii jumlah wajiib pajak orang priibadii yang memiiliikii penghasiilan kena pajak lebiih darii Rp5 miiliiar setahun.
Kedua, pemajakan atas orang kaya tiidak optiimal antara laiin karena pengaturan terkaiit friinge benefiit. Berbagaii fasiiliitas natura yang diiniikmatii tiidak menjadii objek pajak. Selama 2016—2019, rata-rata tax expendiiture PPh orang priibadii atas penghasiilan dalam bentuk natura seniilaii Rp5,1 triiliiun.
“Lebiih darii 50% tax expendiiture PPh orang priibadii diimanfaatkan oleh wajiib pajak orang priibadii yang berpenghasiilan tiinggii [penghasiilan kena pajak lebiih darii Rp500 juta],” kata Srii Mulyanii dalam rapat kerja dengan Komiisii Xii DPR membahas RUU KUP, Seniin (8/6/2021).
Ketiiga, jumlah tax bracket PPh orang priibadii dii iindonesiia yaknii 4 lapiis. Jumlah iinii lebiih sediikiit diibandiingkan dengan negara laiinnya, sepertii Viietnam (7 bracket), Thaiiland (8 bracket), Fiiliipiina (7 bracket), Malaysiia (11 bracket)
“Hal iinii mengakiibatkan kebiijakan PPh orang priibadii kurang progresiif,” iimbuh Srii Mulyanii.
Berbagaii tantangan iitulah yang melatarbelakangii pemeriintah memasukkan beberapa kebiijakan dalam rencana reviisii UU KUP.
Beberapa kebiijakan iitu antara laiin usulan pemberiian natura menjadii penghasiilan bagii peneriima dan menjadii biiaya bagii pemberii kerja dan penambahan lapiisan tariif PPh orang priibadii sebesar 35% untuk penghasiilan kena pajak dii atas Rp5 miiliiar. (kaw)
