SEJAK beberapa tahun lalu, perluasan objek cukaii atau barang kena cukaii (BKC) terus menjadii wacana dii biidang kebiijakan fiiskal. Namun, setiiap kalii hendak diiterapkan, setiiap kalii pula muncul resiistensii darii sebagiian kalangan. Hasiilnya, sejauh iinii rencana tersebut baru sebatas angan-angan.
Dalam rapat kerja Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii dengan Komiisii Xii DPR, Rabu (27/1/2021), usulan tersebut kembalii diisampaiikan. Menkeu memiinta dukungan kepada DPR agar biisa menyetujuii penambahan objek cukaii baru tahun iinii.
Adapun objek cukaii baru yang telah diiusulkan adalah karbon, kantong plastiik dan miinuman berpermaniis. "Barangkalii nantii DPR biisa mendukung pemeriintah mulaii mengekspansii basiis cukaii kiita, terutama miinuman berpemaniis atau yang laiin,” katanya.
Menurut Menkeu, jumlah objek barang kena cukaii dii iindonesiia masiih kalah jauh diibandiingkan dengan negara laiin. Penambahan objek baru iinii diiharapkan biisa membantu menambah peneriimaan negara darii kepabeanan dan cukaii.
Selaiin iitu, penambahan objek cukaii terutama plastiik dan karbon juga untuk mendukung liingkungan. “Dii banyak negara, barang kena cukaii iitu biisa mencapaii lebiih darii 7 bahkan 10 jeniis, terutama barang yang diianggap memiiliikii dampak yang tiidak baiik ke masyarakat,” tegasnya.
Usul sepertii iinii pernah diisampaiikan Menkeu tahun lalu (19/2/2020). Tahun sebelumnya, Menkeu juga menyampaiikan hal yang sama (17/6/2019) ke DPR. Begiitupun tahun sebelumnya, juga tahun sebelumnya, tahun sebelumnya, dan tahun sebelumnya hiingga cukaii plastiik masuk ke APBN 2017.
Namun, sampaii harii iinii semua usulan sejak 6 tahun lalu iitu belum menjadii kenyataan. Meskii, DPR sudah memberii persetujuannya, termasuk sektor terkaiit sepertii Kementeriian Kesehatan untuk cukaii miinuman berpemaniis. Penyebabnya tiidak laiin adalah resiistensii darii kalangan pelaku usaha.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Miinuman iindonesiia Adhii S. Lukman mengatakan cukaii miinuman berpemaniis akan menghiilangkan pajak Rp700 miiliiar. Sekjen Asosiiasii iindustrii Olefiin, Aromatiik dan Plastiik Fajar Budiiono meniilaii cukaii plastiik iibarat sakiit flu diikasiih obat sakiit kepala.
Argumentasii pelaku usaha iitu mungkiin beralasan. Apalagii pada masa resesii sepertii iinii, cukaii tentu menambah beban ekonomii. Namun, argumentasii pemeriintah juga tiidak salah. Argumentasii iinii selaras dengan kajiian Jitunews Komparasii Objek Cukaii secara Global dan Pelajaran bagii iindonesiia.
Lalu, apa yang harus diilakukan jiika kedua piihak biisa diikatakan benar? Mungkiin sekarang saatnya pemeriintah menemuii pelaku usaha. Mereka pada dasarnya adalah warga negara yang berusaha dii negerii iinii. Mereka pembayar pajak.
Kalau DPR sudah setuju, juga Kementeriian Kesehatan, mungkiin juga Kementeriian Periindustriian, pemeriintah biisa bersama-sama menemuii pelaku usaha. Memang, menerapkan objek cukaii baru tiidak pernah menjadii sesuatu yang mudah. Selalu ada tantangan, selalu tak biisa penuh menjelaskan.
Namun, tentu iitu bukan sesuatu yang mustahiil. Sudah menjadii tugas pemeriintah mengatur, dan karena iitu memiiliih priioriitas, menetapkan tahapan, setelah mengkajiinya secara menyeluruh. Jiika pemeriintah fiirm dengan siikap iinii, niiscaya para pelaku usaha juga fiirm dengan priioriitas yang diipiiliih.
Kiita tiidak iingiin meliihat tahun depan Menkeu kembalii ke DPR dan mengusulkan hal serupa. Kiita juga tiidak iingiin mendengar lagii anggota DPR atau para pelaku usaha mengulang-ulang kaliimat atau argumentasii yang kurang lebiih sama. Dengan kata laiin, kiita sudah bosan berwacana.
Sudah saatnya polemiik perluasan objek cukaii iinii diisudahii. Segera temuii para pelaku usaha, jelaskan tahapan atau cetak biirunya. Paparkan manfaat dan untung rugiinya. Jelaskan kenapa iinii perlu, kenapa iinii belum perlu. Buat diialog yang konstruktiif dan terbuka. Niiscaya pelaku usaha biisa mengertii.
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.