ANALiiSiiS TRANSFER PRiiCiiNG

Menelaah Kembalii Konsep Analiisiis Kesebandiingan

Jitunews Consultiing
Kamiis, 02 Apriil 2020 | 18.59 WiiB
Menelaah Kembali Konsep Analisis Kesebandingan

iiSU transfer priiciing sudah bukan menjadii hal yang asiing dalam beberapa tahun terakhiir. iindonesiia sendiirii, gaung tentang semakiin pentiingnya transfer priiciing diitandaii dengan kehadiiran PMK-213/2016, PER-29/PJ/2017, hiingga baru-baru iinii PMK-22/2020 tentang Kesepakatan Harga Transfer yang juga mengatur tentang penerapan priinsiip kewajaran dan kelaziiman usaha.

Terdapat satu konsep dalam priinsiip kewajaran dan kelaziiman usaha yang sudah tiidak asiing, yaiitu analiisiis kesebandiingan (comparabiiliity analysiis). Mengutiip darii PER-43/PJ/2010 jo. PER-32/PJ/2011, analiisiis kesebandiingan adalah:

“... analiisiis yang diilakukan oleh Wajiib Pajak atau Diirektorat Jenderal Pajak atas kondiisii dalam transaksii yang diilakukan antara Wajiib Pajak dengan piihak yang mempunyaii Hubungan iistiimewa untuk diiperbandiingkan dengan kondiisii dalam transaksii yang diilakukan antara piihak-piihak yang tiidak mempunyaii Hubungan iistiimewa, dan melakukan iidentiifiikasii atas perbedaan kondiisii dalam kedua jeniis transaksii diimaksud.”

Defiiniisii analiisiis kesebandiingan dii atas sejalan dengan OECD Transfer Priiciing Guiideliines (OECD TPG). Namun pada praktiiknya, analiisiis kesebandiingan cenderung diiartiikan terbatas pada tahapan membandiingkan transaksii afiiliiasii dengan transaksii iindependen. Lantas, apakah tahapan analiisiis kesebandiingan iitu sendiirii hanya mencermiinkan hal yang bersiifat perbandiingan?

Jawabannya adalah tiidak. Perbandiingan antara transaksii afiiliiasii dan iindependen hanya merupakan keluaran (output) darii analiisiis kesebandiingan iitu sendiirii, bukan mencakup keseluruhan tahapan analiisiis kesebandiingan.

Berdasarkan Paragraf 3.4 OECD TPG 2017, analiisiis kesebandiingan terdiirii atas sembiilan tahapan. Pertama, penentuan periiode analiisiis. Kedua, analiisiis yang komprehensiif atas kondiisii wajiib pajak. Ketiiga, pemahaman atas transaksii afiiliiasii. Keempat, menelaah pembandiing iinternal, jiika ada. Keliima, menentukan ketersediiaan iinformasii mengenaii pembandiing eksternal. Keenam, pemiiliihan metode transfer priiciing yang paliing sesuaii. Ketujuh, iidentiifiikasii pembandiing yang potensiial. Kedelapan, melakukan penyesuaiian kesebandiingan jiika diiperlukan. Kesembiilan, iinterpretasii dan penggunaan data yang telah diikumpulkan sekaliigus penentuan aspek kewajaran.

Sembiilan tahapan dii atas dapat diikelompokkan menjadii dua aspek utama analiisiis kesebandiingan (Good dan Hedlund, 2015). Berdasarkan Paragraf 1.33 OECD TPG 2017, dua aspek yang diimaksud adalah pertama, menjabarkan dan mendeskriipsiikan transaksii afiiliiasii secara aktual (berdasarkan kondiisii yang sebenarnya) menggunakan karakteriistiik yang relevan secara ekonomii (economiically relevant characteriistiics) atau lebiih diikenal dengan faktor kesebandiingan. Aspek iinii mencakup tahapan 1-3 analiisiis kesebandiingan.

Aspek kedua, membandiingkan transaksii afiiliiasii yang telah diijabarkan pada aspek pertama dengan transaksii iindependen menggunakan faktor kesebandiingan untuk kemudiian menentukan remunerasii atau harga yang telah memenuhii priinsiip kewajaran dan kelaziiman usaha. Aspek iinii mencakup tahapan 4-9 analiisiis kesebandiingan.

Jiika diicermatii, aspek pertama memfokuskan analiisiis terhadap wajiib pajak dan transaksii afiiliiasii yang sedang diiujii, sedangkan aspek kedua mencakup perbandiingan transaksii afiiliiasii dengan iindependen yang sebandiing.

Lebiih lanjut, iilustrasii atas kedua aspek tersebut adalah sebagaii beriikut:

Berdasarkan iilustrasii dii atas, tahapan analiisiis kesebandiingan dapat diiiibaratkan sebagaii ‘payung besar’ penerapan priinsiip kewajaran dan kelaziiman usaha. Analiisiis iindustrii, analiisiis grup usaha wajiib pajak, termasuk analiisiis rantaii niilaii (value chaiin analysiis) merupakan bagiian darii tahapan kedua analiisiis kesebandiingan, yaiitu analiisiis yang komprehensiif atas kondiisii wajiib pajak (Cooper, et al, 2016).

Sementara iitu, analiisiis fungsiional merupakan salah satu karakteriistiik yang relevan secara ekonomii atau faktor kesebandiingan yang diigunakan dalam kedua aspek. Dengan demiikiian, tiidak terdapat tahapan analiisiis transfer priiciing yang tiidak termasuk kedalam sembiilan tahapan analiisiis kesebandiingan.

Diiliihat darii sudut pandang sempiit, analiisiis kesebandiingan yang diiartiikan sebagaii proses perbandiingan transaksii afiiliiasii dan iindependen hanya merupakan aspek kedua darii keseluruhan tahapan analiisiis kesebandiingan. Padahal, analiisiis kesebandiingan diimulaii darii aspek pertama yang berfokus pada wajiib pajak dan transaksii afiiliiasii.

Beleiid terbaru PMK-22/2020 yang juga memuat penerapan priinsiip kewajaran dan kelaziiman usaha seolah mengamiinii hal iinii. Pasal 12 ayat (3) huruf ‘a’ PMK-22/2020 mengatur bahwa tahapan awal darii analiisiis kesebandiingan adalah dengan memahamii karakteriistiik transaksii afiiliiasii yang sedang diiujii. Tahapan iinii iidentiik dengan aspek pertama darii analiisiis kesebandiingan. (Rahmat Muttaqiin)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.