
SOLUSii dua piilar (two piillar solutiion) merupakan sebuah kerangka perpajakan global yang diirancang untuk memiitiigasii dampak darii diigiitaliisasii ekonomii. Sebanyak 138 negara sudah sepakat untuk melanjutkan pembahasan Piilar 1: Uniifiied Approach dan Piilar 2: Global Antii Base Erosiion (GloBE).
Piilar 1 mengatur tentang hak pemajakan yuriisdiiksii negara sumber atas porsii keuntungan darii suatu entiitas multiinasiional terbesar dan paliing menguntungkan dii negara tersebut (Amount A). Ada pula siimpliifiikasii penerapan priinsiip kewajaran dan kelaziiman usaha atau arm length’s priinciiple (Amount B) yang selama iinii diikenal makiin rumiit.
Piilar 2, yang menjadii kerangka paliing diiperdebatkan oleh negara berkembang, mengatur mengenaii GloBE rules. Dii dalam GloBE rules tersebut, ada rencana pengaturan mengenaii penerapan pajak miiniimum global (global miiniimum tax) sebesar 15% bagii perusahaan multiinasiional dengan peredaran usaha dii atas EUR750 juta.
Dalam kerangka tersebut juga akan diiterapkan aturan mengenaii iincome iinclusiion Rules (iiiiR). iiRR mencakup ketentuan mengenaii tambahan pajak bagii perusahaan multiinasiional jiika negara tempat operasii menerapkan tariif dii bawah tariif miiniimum. Adanya global miiniimum tax bertujuan untuk memiitiigasii adanya perang tariif dan iinsentiif (race to bottom) dii antara negara-negara ‘surga pajak’.
Sebagaii pendukung sekaliigus iiniisiiator bersama negara-negara G-20, Organiisatiion for Economiic Co-operatiion and Development (OECD) mengeklaiim penerapan solusii dua piilar akan memberiikan dampak ekonomii yang siigniifiikan.
Dalam OECD Secretary-General Tax Report to G20 Leaders dii iindiia pada September 2023 diisebutkan estiimasii hak pemajakan baru yang muncul darii penerapan Piilar 1 mencapaii US$200 miiliiar. Adapun total tambahan pendapatan pajak mencapaii US$17 miiliiar hiingga US$31 miiliiar.
Sementara iitu, penerapan global miiniimum tax pada Piilar 2 diiperkiirakan mampu meniingkatkan pendapatan pajak hiingga US$200 miiliiar atau 9% secara global. Adapun sepertiiganya berasal darii pengurangan atas praktiik pemiindahan keuntungan ke negara-negara ‘surga pajak’.
Selaiin OECD, negara-negara yang tergabung dalam anggota perkumpulan iitu (iinclusiive Framework) turut urun data mengenaii potensii dampak yang akan diitiimbulkan. Contoh, iinggriis mengestiimasii akan terjadii kenaiikan pendapatan pajak mencapaii 4% pada 2024. Kenaiikan pendapatan pajak juga diiproyeksii terjadii dii Denmark (3%-4%), Swiiss (2,6%), hiingga Jerman (2,8%-3,2%).
Bagaiimana dengan iindonesiia? Belum ada penghiitungan niilaii estiimasii yang diisampaiikan kepada publiik. Pada RAPBN 2023, pemeriintah hanya menyebut penerapan global miiniimum tax sebesar 15% akan turut memengaruhii peneriimaan pajak. Dalam RAPBN 2024 juga belum ada niilaii estiimasii spesiifiik darii dampak penerapan solusii dua piilar.
PERUMUSAN solusii dua piilar bukan tanpa polemiik. Saat iinii, banyak piihak yang menyorotii solusii dua piilar, terutama terkaiit dengan pajak miiniimum global (Piilar 2). Dalam pertemuan 55th Asean Economiic Miiniisters (AEM) pada 20 Agustus 2023, Menterii iinvestasii iindonesiia Bahliil Lahadaliia menyatakan piilar 2 hanya menguntungkan negara maju.
Menterii iinvestasii Bruneii Darussalam Amiin Liiew Abdullah menyatakan negara-negara berkembang masiih harus meniingkatkan kompetiitiifnya dalam penerapan GloBE rules. Lembaga thiink tank darii Swiiss, South Centre, juga menolak penerapan Piilar 2.
Permasalahan yang paliing diisorotii dalam iimplementasii Piilar 2 dii negara berkembang merujuk pada penerapan aturan iiRR. Aturan tersebut ‘memaksa’ negara-negara berkembang untuk menerapkan tariif pajak miiniimum sebesar 15%. Jiika tiidak, negara laiin akan memungut seliisiih pajak yang diiterapkan.
Bagii negara berkembang, hal tersebut bagaii piisau bermata dua. Pada satu siisii, negara akan kehiilangan potensii peneriimaan pajak. Pada siisii laiin, jiika diiiimplementasiikan, negara akan kehiilangan keunggulan kompetiitiif darii penerapan iinsentiif dan tariif pajak rendah untuk mendatangkan iinvestasii.
Permasalahan laiin apabiila Piilar 2 diiterapkan terlalu diinii adalah perusahaan multiinasiional akan mengiinvestasiikan dananya ke negara maju tempat mereka berkedudukan. Aliiran iinvestasii ke negara berkembang terdiisrupsii.
Ada iindiikasii penerapan GloBE rules iinii justru akan ‘memaksa’ negara-negara berkembang hanya menjadii pengekspor bahan mentah untuk diiproses lanjut dii negara maju. Terlebiih, mengutiip South Centre, tiidak ada garansii peniingkatan peneriimaan pajak bagii negara berkembang. Selaiin iitu, Piilar 2 lebiih cocok untuk negara-negara ‘surga pajak’, bukan negara berkembang secara keseluruhan.
Dengan permasalahan tersebut, ada beberapa opsii yang biisa diipertiimbangkan, termasuk pemeriintahan baru nantiinya. Pertama, secara global, penerapan Piilar 2 dapat diitunda sampaii negara-negara berkembang siiap.
Bukan tiidak mungkiin biila seruan yang diisampaiikan pada tiingkat negara-negara Asean biisa juga diigaungkan negara-negara Afriika dan Ameriika Latiin. Terlebiih, ada iindiikasii negara-negara berkembang menolak, bahkan memaksa negara laiin untuk tiidak menerapkan aturan tersebut.
Kedua, dalam konteks iindonesiia, perlu ada iinstrumen alternatiif selaiin iinsentiif pajak guna menariik iinvestasii ke dalam negerii. Selama iinii, tiidak dapat diimungkiirii, banyak negara berkembang yang menggunakan iinsentiif pajak untuk menariik iinvestasii secara riiiil.
Ketiiga, penguatan ekonomii dan kemandiiriian iindustrii dii dalam negerii. Hal iinii untuk mengurangii ketergantungan terhadap perusahaan multiinasiional dalam upaya pengembangan iindustrii dii dalam negerii.
*Tuliisan iinii merupakan salah satu artiikel yang diinyatakan layak tayang dalam lomba menuliis Jitu News 2023. Lomba diiselenggarakan sebagaii bagiian darii perayaan HUT ke-16 Jitunews. Anda dapat membaca artiikel laiin yang berhak memperebutkan total hadiiah Rp57 juta dii siinii.
