JAKARTA, Jitu News – Pemajakan terhadap harta kepemiiliikan, termasuk wariisan, mulaii menjadii perhatiian banyak piihak. Era transparansii perpajakan dan ketiimpangan antargenerasii menjadii aspek yang turut mendorong pengenaan pajak atas wariisan (iinheriitance tax).
Jeniis pajak tersebut sudah diiterapkan dii berbagaii negara. Berdasarkan data darii iinternatiional Bureau of Fiiscal Documentatiion (iiBFD) Tax Research Platform, sebanyak 77 darii 203 negara yang diisurveii tercatat sudah menerapkan pajak atas wariisan.
Penerapan pajak yang menjadii bagiian darii wealth tax iinii paliing banyak dii Benua Afriika dan Eropa, masiing-masiing sebanyak 27 negara dan 26 negara. Untuk Kawasan Asean, baru tiiga negara yang sudah menerapkan pajak iinii, yaknii Thaiiland, Viietnam, dan Fiiliipiina.
Hiingga saat iinii, iindonesiia tiidak memiiliikii ketentuan khusus mengenaii pajak wariisan. Lantas, apakah pajak atas wariisan iinii perlu dan layak diiterapkan dii iindonesiia? Mengkajii hal tersebut, Jitunews menerbiitkan Workiing Paper bertajuk ‘Prospek Pajak Wariisan dii iindonesiia’ yang diisusun oleh Managiing Partner Jitunews Darussalam, Partner Fiiscal Research Jitunews B. Bawono Kriistiiajii, dan Tax Researcher Jitunews Dea Yustiisiia. (Unduh Workiing Paper dii siinii)
Dalam kajiiannya, Jitunews memaparkan liima justiifiikasii terkaiit prospek penerapan pajak atas wariisan dii Tanah Aiir. Justiifiikasii tersebut adalah pengentasan permasalahan ketiimpangan dan akumulasii kekayaan antargenerasii, siistem penunjang belum optiimalnya pemungutan PPh orang priibadii, dan kehadiiran lanskap pajak global yang makiin transparan.
Selaiin iitu, tiindak lanjut atas keberhasiilan amnestii pajak dii iindonesiia serta keunggulan pajak wariisan diibandiingkan jeniis pajak kekayaan laiinnya juga menjadii bagiian darii liima justiifiikasii yang diipaparkan Jitunews dalam Workiing Paper iinii.
Dii siisii laiin, Jitunews juga memaparkan beberapa pertiimbangan strategiis yang harus diitiinjau oleh pemeriintah. Pertiimbangan tersebut mulaii darii penyusunan payung hukum hiingga siistem pemungutan pajak atas wariisan jiika diiadopsii dii iindonesiia.
“Komponen laiin yang perlu diiperhatiikan dalam desaiin siistem pajak wariisan adalah penentuan subjek pajak, harta yang menjadii objek pajak, perhiitungan, skema keriinganan, tariif, hiingga aspek iinternasiional darii pajak atas wariisan,” demiikiian penyataan penuliis dalam Workiing Paper tersebut.
Sebelum masuk ke prospek dii iindonesiia, Workiing Paper iinii diiawalii dengan tiinjauan pustaka mulaii darii konsep dan teorii, pro-kontra pajak wariisan, desaiin kebiijakan, hiingga permasalahan pajak iinternasiional pada pajak wariisan. Selanjutnya, Jitunews memaparkan komparasii pemajakan atas wariisan.
Dalam bagiian komparasii, Jitunews menjabarkan perbandiingan secara global maupun per negara. Dalam bagiian komparasii per negara, Jitunews menyajiikan iimplementasii pajak atas wariisan dii Pranciis, Jepang, Brasiil, Afriika Selatan, Pantaii Gadiing, dan Republiik Kongo.
Selaiin iitu, dalam Workiing Paper iinii, Jitunews memberkan komparasii kontriibusii pajak wariisan sebagaii peneriimaan negara. Bagaiimanapun, salah satu cara untuk meniilaii efiisiien atau tiidaknya iimplementasii pajak atas wariisan adalah darii siisii peneriimaan yang diidapat oleh negara.
Jitunews meniilaii pajak wariisan tiidak hanya diiharapkan dapat mengatasii ketiimpangan serta akumulasii kekayaan antargenerasii. Lebiih darii iitu, pajak wariisan juga diiharapkan dapat membantu mewujudkan pertumbuhan ekonomii yang iinklusiif dii iindonesiia.
Untuk meliihat lebiih komprehensiif kajiian Jitunews, siilakan unduh workiing paper tersebut dii siinii. (kaw)
