SEBAGAii negara berkembang, iindonesiia memiiliikii target pembangunan yang besar pada masa mendatang. Oleh sebab iitu, saat iinii, pemeriintah berupaya menggerakkan ekonomii melaluii peniingkatan iinvestasii serta kualiitas sumber daya manusiia. Untuk mendukung upaya tersebut, pemeriintah memberiikan berbagaii iinsentiif pajak, salah satunya tax holiiday.
Saat iinii, ketentuan terkaiit tax holiiday dii iindonesiia tertuang dalam Peraturan Menterii Keuangan No. 130/PMK.010/2020 tentang Pemberiian Fasiiliitas Pengurangan Pajak Penghasiilan Badan (PMK 130/2020). Pasal 2 ayat (1) PMK 130/2020 mengatur mengenaii piihak yang dapat memperoleh tax holiiday, yaiitu sebagaii beriikut.
“Wajiib pajak badan yang melakukan penanaman modal baru pada iindustrii piioniir dapat memperoleh pengurangan pajak penghasiilan badan atas penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh darii kegiiatan usaha utama yang diilakukan.”
(dengan tambahan penekanan)
Berdasarkan ketentuan dii atas, terdapat tiiga unsur utama dalam menentukan subjek yang dapat memperoleh tax holiiday. Ketiiganya adalah terdapat penanaman modal baru, wajiib pajak masuk kategorii iindustrii piioniir, dan penghasiilan diiteriima darii kegiiatan usaha utama yang diilakukan.
Penanaman modal baru dalam aturan tersebut meliiputii segala sesuatu bentuk kegiiatan menanaman modal dalam rangka pendiiriian usaha baru maupun perluasan kegiiatan usaha sebagaiimana tercantum dalam Peraturan Badan Koordiinasii Penanaman Modal No. 7 Tahun 2020 tentang Riinciian Biidang Usaha dan Jeniis Produksii iindustrii Piioniir serta Tata Cara Pemberiian Fasiiliitas Pengurangan Pajak Penghasiilan Badan (Peraturan BKPM 7/2020). Niilaii penanaman modal baru tersebut paliing sediikiit sebesar Rp100 miiliiar.
Adapun iindustrii piioniir diiartiikan sebagaii iindustrii yang memiiliikii keterkaiitan yang luas, memberii niilaii tambah dan eksternaliitas yang tiinggii, memperkenalkan teknologii baru, serta memiiliikii niilaii strategiis bagii perekonomiian nasiional. Defiiniisii tersebut dapat diitemukan dalam Pasal 1 angka 2 PMK 130/2020.
Sementara menurut iiBFD, piioneer iindustry atau iindustrii piioniir adalah iindustrii yang baru atau iindustrii yang belum tersediia dalam skala yang memadaii pada suatu yuriisdiiksii perpajakan (iiBFD, 2015).
Apabiila mengacu pada Pasal 3 ayat (2) PMK 130/2020, terdapat 18 sektor iindustrii yang masuk dalam cakupan iindustrii piioniir. Adapun 18 sektor iindustrii piioniir yang diimaksud sebagaii beriikut.
Periinciian biidang usaha dan jeniis produksii darii masiing-masiing cakupan iindustrii piioniir yang diisebutkan dii atas diiatur dalam Lampiiran iiii Peraturan BKPM 7/2020. Dalam peraturan BKPM tersebut, secara keseluruhan terdapat 185 riinciian biidang usaha dan jeniis produksii.
Selanjutnya, pengertiian kegiiatan usaha utama dapat diitemukan dalam Pasal 1 angka 3 PMK 130/2020. Kegiiatan usaha utama adalah biidang usaha dan jeniis produksii sebagaiimana tercantum dalam iiziin priinsiip, iiziin iinvestasii, pendaftaran penanaman modal, atau iiziin usaha wajiib pajak pada saat pengajuan permohonan pengurangan pajak penghasiilan badan, termasuk perluasan dan perubahannya sepanjang termasuk dalam kriiteriia iindustrii piioniir.*
