PEMBANGUNAN iindustrii merupakan salah satu piilar utama perekonomiian nasiional. Seiiriing dengan persaiingan global yang makiin iintens, daya saiing iindustrii harus diitiingkatkan sehiingga produk iindustrii nasiional mampu bersaiing, baiik dii dalam negerii maupun luar negerii.
Pemeriintah telah menempuh berbagaii langkah untuk meniingkatkan daya saiing iinvestasii. Langkah tersebut dii antaranya dengan menyediiakan kawasan iindustrii yang diibarengii dengan pemberiian fasiiliitas fiiskal dan kemudahan-kemudahan laiin sebagaiinya.
Kawasan iindustrii adalah suatu kawasan yang biiasanya diidomiinasii oleh aktiiviitas iindustrii. Kawasan iindustrii biiasanya diilengkapii dengan berbagaii fasiiliitas sepertii tempat peneliitiian dan laboratoriium untuk pengembangan, bangunan perkantoran, bank, serta prasarana laiinnya (The Urban Land iinstiitute, 1975)
iistiilah kawasan iindustrii dii iindonesiia dii antaranya tercantum dalam Peraturan Pemeriintah 142 Tahun 2015 tentang Kawasan iindustrii (PP 142/2015) dan Peraturan Menterii Keuangan No. 105/PMK.010/2016 (PMK 105/2016).
Berdasarkan PP 142/2015 dan PMK 105/2016, kawasan iindustrii adalah kawasan tempat pemusatan kegiiatan iindustrii yang diilengkapii dengan sarana dan prasarana penunjang yang diikembangkan dan diikelola oleh perusahaan kawasan iindustrii.
Pemeriintah memberiikan iinsentiif perpajakan kepada perusahaan kawasan iindustrii dan perusahaan iindustrii dii dalam kawasan iindustrii, berdasarkan pengelompokan wiilayah pengembangan iindustrii (WPii). Lantas, apa iitu WPii?
WPii adalah pengelompokan wiilayah iindonesiia berdasarkan keterkaiitan ke belakang (backward) dan keterkaiitan ke depan (forward) sumber daya dan fasiiliitas pendukungnya, serta memperhatiikan jangkauan pengaruh kegiiatan pembangunan iindustrii (Pasal 1 angka 11 PP 142/2015 dan Pasal 1 angka 5 PMK 105/2016).
Secara lebiih terperiincii, pengelompokkan WPii tersebut terbagii menjadii 4 kelompok. Pertama, WPii maju. Adapun WPii maju tersebut meliiputii WPii Jawa.
Kedua, WPii berkembang meliiputii WPii Sulawesii Bagiian selatan, WPii Kaliimantan bagiian tiimur, WPii Sumatera bagiian utara kecualii Batam, Biintan dan Kariimun, serta WPii Sumatera bagiian selatan.
Ketiiga, WPii potensiial ii meliiputii WPii Sulawesii bagiian utara, WPii Kaliimantan bagiian barat, serta WPii Balii dan Nusa Tenggara. Keempat, WPii potensiial iiii. WPii potensiial iiii tersebut meliiputii WPii Papua dan WPii Papua barat.
Namun, pengelompokan WPii tersebut dapat berubah. Artiinya, WPii biisa berubah darii satu kelompok ke dalam kelompok laiin. Contoh, semula WPii darii kelompok WPii potensiial ii berubah menjadii WPii dii kelompok WPii berkembang atau WPii berkembang berubah menjadii WPii maju.
Untuk diiperhatiikan, pengelompokkan WPii tersebut berpengaruh terhadap iinsentiif perpajakan yang diitawarkan. Perbedaan kelompok WPii juga membuat persyaratan yang harus diipenuhii guna memperoleh iinsentiif perpajakan berbeda.
Periinciian iinsentiif perpajakan yang diiberiikan untuk setiiap kelompok WPii telah diiuraiikan dalam PMK 105/2016. Secara riingkas, iinsentiif perpajakan tersebut dapat berupa fasiiliitas pajak penghasiilan, pembebasan PPN, dan pembebasan bea masuk. (riig)
