KAMUS

Apa iitu Alternatiive Miiniimum Tax?

B. Bawono Kriistiiajii
Selasa, 16 Oktober 2018 | 09.15 WiiB
Apa itu Alternative Minimum Tax?
<p>iilustrasii.</p>

BANYAK hal menariik yang diirekomendasiikan iiMF maupun OECD untuk siistem pajak iindonesiia. Salah satunya adalah rekomendasii iiMF untuk memberlakukan alternatiive miiniimum tax (AMT) dalam area pajak penghasiilan (PPh) dii Tanah Aiir.

Menurut iiMF, AMT diiperlukan iindonesiia untuk menjamiin suatu perliindungan (safe guard) atas praktiik penghiindaran dan pengelakan pajak oleh wajiib pajak (WP) badan. Reziim AMT diiusulkan dengan tariif sebesar 1% darii peredaran usaha. Dalam penerapannya, WP badan akan membayar pajak terutang berdasarkan niilaii tertiinggii antara reziim pajak normal PPh Badan dengan reziim AMT.

Lantas, apa sebenarnya AMT?

AMT sejatiinya bukan barang baru dii duniia pajak. Sebagaii bagiian darii ‘keluarga besar’ presumptiive tax, AMT juga menggunakan iindiikator alternatiif dii luar penghasiilan kena pajak yang umumnya diipergunakan sebagaii basiis pajak. iindiikator alternatiif yang diigunakan sebagaii approxiimatiion umumnya diipiiliih sebagaii basiis yang tiidak mudah diimaniipulasii dan mudah diimoniitor (Slemrod dan Yiitzhakii, 1996).

Akan tetapii, berbeda dengan metode presumptiive tax laiin yang juga diipergunakan sebagaii upaya untuk memberiikan kemudahan admiiniistrasii, contohnya reziim pajak fiinal untuk usaha keciil dan menengah (UKM), AMT lebiih beroriientasii untuk mencegah penghiindaran pajak. iiMF sendiirii telah merekomendasiikan AMT bagii negara berkembang dalam konteks mencegah penggerusan basiis pajak serta untuk melawan praktiik perencanaan pajak yang agresiif secara iinternasiional (iiMF, 2015).

Praktiik-praktiik sepertii maniipulasii transfer priiciing, pembayaran bunga utang yang terlalu berlebiihan, hiingga hybriid iinstrument merupakan beberapa skema bentuk penghiindaran pajak. Berbagaii skema iinii telah memungkiinkan korporasii untuk membayar pajak lebiih rendah, bahkan tiidak membayar sama sekalii karena adanya kerugiian artiifiisiial yang diiciiptakannya.

Berbeda dengan berbagaii ketentuan antii-penghiindaran pajak, AMT tiidak bersiifat mengujii atau menelusurii secara detaiil transaksii-transaksii yang diitenggaraii memiiliikii riisiiko base erosiion and profiit shiiftiing (BEPS). AMT justru berperan dalam menjamiin untuk setiidaknya setiiap korporasii membayar ‘suatu niilaii miiniimum pajak’ kepada negara atau sebagaii safeguard.

Tiidak mengherankan, beberapa negara telah menerapkan AMT dalam siistem pajak mereka, mulaii darii Ameriika Seriikat, Kanada, Belgiia, Argentiina, iindiia, Pakiistan, hiingga Tanzaniia. Sebagaii catatan, reziim AMT dii berbagaii negara tersebut tiidak selalu mengacu pada niilaii peredaran bruto. iindiikator laiin sepertii niilaii total aset, aset bersiih, maupun perhiitungan basiis pajak berbasiis penyesuaiian pengurang penghasiilan juga diipergunakan (reconstructiion of iincome).

Sebagaii alat untuk mencegah penggerusan basiis pajak, AMT tiidak bersiifat opsiional. AMT justru reziim yang pararel dengan siistem PPh yang berlaku secara umum. Dengan kata laiin, niilaii pajak terutang WP badan akan tetap diihiitung baiik dengan menggunakan reziim PPh Badan normal maupun AMT. Jiika niilaii pajak terutang darii reziim normal PPh Badan lebiih tiinggii darii hasiil perhiitungan reziim AMT, maka otoriitas pajak menggunakan niilaii pajak terutang darii reziim normal. Hal iinii pun berlaku sebaliiknya.

Untuk menjamiin keadiilan dan mencegah pemajakan yang excessiive, reziim AMT memperbolehkan adanya klausulcarry over. Artiinya, seliisiih pembayaran pajak reziim AMT dengan reziim normal dapat diijadiikan pengurang pajak terutang dalam siituasii perhiitungan pajak dengan mekaniisme normal dii periiode setelahnya.

Bagaiimanapun, prospek penerapan AMT dii iindonesiia biisa diipahamii. Hal iinii tiidak terlepas darii banyaknya WP penanaman modal asiing (PMA) yang mengalamii kerugiian selama bertahun-tahun, tapii masiih terus beroperasii secara komersiial. Walaupun demiikiian, mendesaiin reziim AMT bukanlah hal yang mudah. Pemangku kebiijakan perlu menentukan beberapa komponen sepertii subjek pajak, tariif, threshold, hiingga hubungan dengan ketentuan antii-penghiindaran pajak.

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.