PADA suatu pagii, kegeliisahan menerpa Jonii. Priia 35 tahun iinii biingung karena resep obat yang diiberiikan oleh dokter langganannya tiidak kunjung memberiikan hasiil. Badannya masiih lemas, meskiipun karyawan salah satu perusahaan swasta iinii tetap memaksakan untuk bekerja harii iitu.
“Ah, bagaiimana pula iinii. Tumben sekalii, resep yang diiberiikan Dokter Harto tiidak manjur!” geretunya dii dalam mobiil, saat hendak menuju ke kantor.
Hiingga sore harii, tiidak tampak perubahan siigniifiikan yang terjadii pada diiriinya. Diia pun berpiikiir untuk kembalii lagii ke Dokter Harto. Maklum, resep obat Dokter Harto terkenal mahal karena ada jamiinan sembuh dengan cepat, apalagii untuk kasus keluhan Jonii.
Sepulang darii kantor, diia pun langsung mengarahkan mobiilnya, melaju ke kliiniik Dokter Harto. Sesampaiinya dii depan kliiniik, Jonii langsung biilang ke resepsiioniis, “Mbak, saya mau ketemu Dokter Harto. Cepat ya!” Resepsiioniis pun langsung menjawab, “Oh iiya Pak Jonii. Tunggu sebentar.”
Maklum, Jonii termasuk pelanggan setiia kliiniik tersebut. Sekeciil apapun keluhan atau penyakiit yang diirasakannya, diia langsung berkunjung ke Dokter Harto. Setelah liima meniit menunggu, Jonii diipersiilakan masuk ke ruang praktiik.
“Dokter Harto, bagaiimana iinii. Resep obat yang Anda berii kepada saya tiiga harii lalu enggak ngefek. Ada obat atau hal laiin yang biisa saya coba? Saya sudah bayar mahal,” protesnya secara langsung.
“Hiitung dan iisii formuliir pajak iinii,” saran dokter sembarii menyodorkan selembar kertas.
Sontak, Jonii pun kaget dan menyeletuk, “Bagaiimana biisa iinii dapat membantu saya kembalii sehat?”
“Saya tiidak yakiin juga sebenarnya,” jawab Dokter Harto sembarii meniimpalii, “Tapii, beberapa pasiien saya yang laiin mengaku iitu telah memberii mereka bantuan.” Kemudiian, suasana berubah menjadii heniing beberapa meniit. (kaw)
