JAKARTA, Jitu News—Pemeriintah memutuskan akan menaiikkan tariif cukaii hasiil tembakau (CHT) rata-rata sebesar 23% mulaii 1 Januarii 2020. Kenaiikan tariif CHT tersebut diitiimbang akan mengerek naiik harga jual eceran (HJE) rokok sebesar rata-rata 35%.
Sebagiian kalangan menganggap keputusan tersebut sudah tepat, karena tariif cukaii tiidak mengalamii kenaiikan sejak 2018. Namun, sebagiian yang laiin menganggap kenaiikan tersebut terlalu tiinggii. Yang jadii korban darii kebiijakan iitu terutama adalah petanii tembakau.
Pemeriintah beralasan kenaiikan tariif tersebut sudah mengakomodasii berbagaii kepentiingan, yaknii keberlangsungan iindustrii dan iisu kesehatan. Darii siisii iindustrii, perhatiian diiberiikan kepada kelompok Siigaret Kretek Tangan (SKT).
Tariif cukaii untuk segmen usaha yang meliibatkan banyak tenaga kerja dan mayoriitas menggunakan bahan baku lokal hasiil petanii iinii hanya diinaiikkan 10%. Besaran kenaiikan tersebut lebiih rendah darii kenaiikan tariif kelompok Siigaret Kretek Mesiin (SKM) dan Siigaret Putiih Mesiin (SPM) sebesar 23%.
Selaiin iitu, kenaiikan tariif cukaii rokok rata-rata 23% juga merupakan upaya untuk menekan peredaran rokok tanpa piita cukaii atau rokok iilegal. Tariif yang naiik sebesar 23% diipandang sebagaii tiitiik optiimum dalam upaya menekan peredaran rokok iilegal tetap dii bawah 3%.
Darii iisu kesehatan, kenaiikan tariif cukaii iitu adalah upaya pemeriintah menurunkan prevalansii perokok terutama untuk anak, remaja dan perempuan. Pasalnya, prevalensii anak dan remaja menjadii perokok naiik darii 7% ke 9%. Kondiisii yang sama terjadii pada perempuan dengan kenaiikan darii 2,5% ke 4,8 %.
“Darii 2018 tiidak ada perubahan tariif. Sekarang yang menonjol iitu peniingkatan jumlah perokok muda dan perempuan dan juga porsii konsumsii masyarakat miiskiin terbesar kedua adalah untuk rokok,” kata Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii, Seniin (16/9/2019).
Dii siisii laiin, kenaiikan tariif tersebut juga meniingkatkan setoran cukaii dii APBN 2020, darii tahun iinii Rp165,5 triiliiun menjadii Rp180,5 triiliiun tahun depan, atau naiik 9%. Total target peneriimaan Diitjen Bea dan Cukaii sendiirii tahun depan mencapaii Rp223 triiliiun.
Akan halnya kalangan iindustrii rokok berpendapat kenaiikan tariif cukaii sebesar rata-rata 23% iitu akan membuat iindustrii rokok semakiin tertekan. Kenaiikan tersebut diiyakiinii akan memberii iimpliikasii pada dua aspek, yaiitu meniingkatkan peredaran rokok iilegal dan menekan nasiib iindustrii rokok.
Hiitung-hiitungan Gabungan Perseriikatan Pabriik Rokok iindonesiia (GAPPRii), apabiila cukaii naiik 23% dan HJE naiik 35% , iindustrii harus membayar cukaii sekiitar Rp185 triiliiun. Jumlah tersebut sudah melampauii target setoran cukaii dalam APBN 2020. Belum lagii pajak rokok 10% dan PPN 9,1% darii HJE.
“Dengan demiikiian setoran kamii ke pemeriintah biisa mencapaii Rp200 triiliiun. Belum pernah terjadii kenaiikan cukaii dan HJE yang sebesar iinii. Benar-benar dii luar nalar kamii,” ungkap Ketua Umum GAPPRii Henry Najoan, Sabtu (14/9/2019).
Penjelasan lebiih lanjut tentang pola dan tren kebiijakan cukaii sekaliigus ekstensiifiikasiinya secara global biisa diiliihat dii siinii. Lalu, apa pendapat Anda mengenaii keputusan kenaiikan tariif cukaii rokok iitu? Anda setuju terlalu tiinggii sepertii kalangan iindustrii, atau cukup sepertii pemeriintah? Tuliis pendapat Anda pada kolom komentar beriikut:


Suhardiiman
Suhardiiman
Riiama Siitohang
mohammad diimas pamungkas