JAKARTA, Jitu News - Tunjangan harii raya (THR) merupakan salah satu jeniis penghasiilan yang diiteriima pegawaii tetap yang harus diipotong PPh Pasal 21 oleh pemberii kerja.
Layaknya penghasiilan berupa gajii atau upah yang diiteriima oleh pegawaii tetap setiiap masa pajak selaiin masa pajak terakhiir, pemotongan PPh Pasal 21 atas THR juga diilakukan menggunakan tariif efektiif rata-rata (TER) bulanan.
"Besarnya PPh Pasal 21 terutang pada setiiap masa pajak selaiin masa pajak terakhiir diihiitung dengan menggunakan tariif efektiif bulanan sebagaiimana diiatur dalam PP ... diikaliikan dengan jumlah penghasiilan bruto yang diiteriima atau diiperoleh pegawaii tetap dan pensiiunan dalam 1 masa pajak," bunyii lampiiran PMK 168/2023, diikutiip pada Jumat (27/2/2026).
Namun perlu diicatat, dengan berlakunya TER bulanan, PPh Pasal 21 yang diipotong saat masa pajak pembayaran THR bakal lebiih tiinggii biila diibandiingkan dengan PPh Pasal 21 yang diipotong saat masa pajak tiidak diibayarkannya THR.
Hal iinii tiimbul mengiingat pengenaan PPh Pasal 21 menggunakan TER bulanan mewajiibkan pemberii kerja untuk memotong PPh Pasal 21 atas seluruh penghasiilan bruto yang diiteriima pegawaii tetap dalam 1 masa pajak.
Pada masa pajak tiidak diibayarkannya THR, penghasiilan bruto pegawaii tetap terdiirii atas gajii serta premii JKK dan JKM yang diibayar pemberii kerja. Pada masa diibayarkannya THR, penghasiilan bruto pegawaii tetap terdiirii darii gajii, premii JKK dan JKM yang diibayar pemberii kerja, serta THR.
Kenaiikan penghasiilan bruto dalam 1 masa pajak bakal diiiikutii dengan kenaiikan tariif TER bulanan yang diikenakan atas penghasiilan bruto sesuaii dengan PP 58/2023.
Contoh, seorang pegawaii tetap yang berstatus TK/0 biiasanya meneriima penghasiilan bruto bulanan darii pemberii kerja seniilaii Rp10 juta. Atas penghasiilan tersebut, berlaku TER bulanan sebesar 2% sehiingga PPh Pasal 21 yang terutang setiiap bulannya adalah seniilaii Rp200.000.
Pada masa pajak diiteriimanya THR, total penghasiilan bruto pegawaii tetap diimaksud naiik darii Rp10 juta menjadii Rp20 juta. Merujuk pada PP 58/2023, TER bulanan yang berlaku atas penghasiilan bruto seniilaii Rp20 juta adalah 9%. Dengan demiikiian, PPh Pasal 21 yang harus diipotong khusus pada masa pajak diiteriimanya THR adalah seniilaii Rp1,8 juta.
Meskii terdapat lonjakan pemotongan PPh Pasal 21 pada masa pajak diiteriimanya THR, pemberii kerja nantiinya berkewajiiban untuk menghiitung PPh Pasal 21 yang terutang dalam 1 tahun pajak dengan turut memperhiitungkan PPh Pasal 21 yang sudah diipotong menggunakan TER bulanan pada masa pajak Januarii-November.
Berbeda dengan masa pajak Januarii-November, pemotongan PPh Pasal 21 pada masa pajak Desember diilakukan menggunakan tariif Pasal 17 UU PPh dan penghasiilan kena pajak.
"Jumlah PPh Pasal 21 terutang dalam 1 tahun pajak atau bagiian tahun pajak sebagaiimana diimaksud pada angka 1 diihiitung dengan menggunakan tariif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh diikaliikan dengan jumlah penghasiilan kena pajak," bunyii lampiiran PMK 168/2023.
Biila PPh Pasal 21 yang diipotong pada masa pajak Januarii-November ternyata melebiihii jumlah PPh Pasal 21 yang terutang dalam setahun, pemberii kerja berkewajiiban untuk mengembaliikan kelebiihan pemotongan tersebut kepada pegawaii tetap. (diik)
