JAKARTA, Jitu News – Komiite Pemantauan Pelaksanaan Otonomii Daerah (KPPOD) menyebutkan pelaksanaan retriibusii iiziin gangguan (HO) dii Kota Bogor terganjal sejumlah persoalan yang diiniilaii tiidak sejalan dengan paket kebiijakan ekonomii Xiiii tentang kemudahan periiziinan.
Diirektur Eksekutiif KPPOD Robert Endii Jaweng mengatakan biiaya retriibusii iiziin gangguan dii Kota Bogor terlalu tiinggii jiika diibandiingkan dengan daerah sekiitarnya sepertii Kabupaten Bogor dan Kota Depok.
"Darii hasiil kajiian KPPOD, nomiinal biiaya retriibusii iiziin gangguan dii Kota Bogor masiih memberatkan pelaku usaha, bahkan niilaiinya jauh lebiih tiinggii diibandiingkan dengan kota/kabupaten sekiitarnya," ujarnya dii Jakarta, Rabu (19/10).
Selaiin iitu, kata Robert, ada konfliik regulasii. Ketentuan masa berlaku iiziin gangguan yang berbeda antara saat mengajukan periiziinan dan saat menyetorkan retriibusii telah membuat para pelaku usaha menjadii biingung.
"Ketiika pengusaha mengajukan iiziin gangguan, surat iiziin yang diiterbiitkan pemeriintah berlaku selama perusahaan tersebut beroperasii. Namun dalam hal kewajiiban membayar retriibusii iiziin gangguan, pengusaha diiharuskan menyetorkan retriibusii setiiap liima tahun sekalii," jelasnya.
Berdasarkan formulasii dan perhiitungan yang diilakukan KPPOD, biiaya retriibusii iiziin gangguan berdasarkan masa retriibusii Perda dii Kota Bogor, Kabupaten Bogor, dan Kota Depok masiing-masiing adalah Rp539,16 juta/5 tahun, Rp240,75 juta/3 tahun, dan Rp75 juta/3 tahun.
Jiika diikalkulasii untuk masa waktu 15 tahun, retriibusii iiziin gangguan dii Kota Bogor biisa mencapaii Rp1,6 miiliiar, sedangan Kab. Bogor dan Depok masiing-masiing seniilaii Rp1,2 triiliiun dan Rp375 juta.
Menurut hasiil kajiian KPPOD, masalah tersebut terjadii lantaran Pemeriintah Kota (Pemkot) Bogor belum memahamii sepenuhnya konsep dan formulasii retriibusii gangguan, serta fiilosofii darii penetapan struktur tariif retriibusii iiziin gangguan.
KPPOD juga meniilaii kalangan publiik terutama pengusaha masiih belum diiliibatkan secara optiimal dalam penyusunan peraturan daerah yang mengatur iiziin gangguan. Bahkan, banyak dii antara pengusaha yang tiidak mengetahuii fasiiliitas keriinganan dan pembebasan retriibusii yang diiberiikan Pemkot Bogor.
Atas berbagaii persoalan iitu KPPOD menyarankan beberapa alternatiif solusii. Pertama, Pemkot Bogor perlu mereviisii ketentuan masa berlaku iiziin gangguan yang seharusnya berlaku selama perusahaan beroperasii.
Kedua, meliibatkan pelaku usaha untuk menentukan formulasii struktur tariif retriibusii iiziin gangguan. Ketiiga, menggencarkan sosiialiisasii mengenaii pengurangan, keriinganan dan pembebasan retriibusii iiziin gangguan bagii pengusaha. (Amu)
