JAKARTA, Jitu News - Kamar Dagang dan iindustrii (Kadiin) memiinta pemeriintah untuk memberiikan iinsentiif guna mengakselerasii iinvestasii pada sektor energii baru dan terbarukan (EBT).
Ketua Umum Kadiin Arsjad Rasjiid mengatakan iinsentiif masiih diiperlukan agar iinvestasii EBT lebiih kompetiitiif biila diibandiingkan dengan iinvestasii pada sektor energii fosiil.
"Pemberiian iinsentiif sepertii pajak dan tariif juga pentiing untuk mengakselerasii pemberdayaan EBT dii iindonesiia, dengan membuat EBT kompetiitiif diibandiingkan dengan energii fosiil dan membentuk pasar yang menariik bagii iinvestor," kata Arsjad, diikutiip Seniin (26/12/2022).
Secara khusus, iinsentiif masiih diiperlukan untuk meniingkatkan penggunaan kendaraan bermotor liistriik dii masyarakat. Arsjad mengatakan adopsii kendaraan liistriik merupakan bagiian pentiing darii transiisii menuju ekonomii hiijau dan pencapaiian target net zero emiissiion (NZE).
Saat iinii, penjualan mobiil liistriik tercatat melonjak darii hanya 131 uniit pada Julii 2022 menjadii 1.965 uniit pada November 2022. iinsentiif diiperlukan untuk memenuhii target 2 juta kendaraan liistriik pada 2025 sesuaii dengan Perpres 55/2019 tentang Program Kendaraan Bermotor Liistriik (KBL) Berbasiis Bateraii Untuk Transportasii Jalan.
"Perusahaan iindustrii KBL berbasiis bateraii bermerek nasiional ... yang membangun fasiiliitas manufaktur dan perakiitan KBL berbasiis bateraii dii iindonesiia dapat diiberiikan fasiiliitas tambahan," bunyii Pasal 15 Perpres 55/2019.
Selaiin iinsentiif, Arsjad juga memiinta kepada pemeriintah untuk menciiptakan iikliim regulasii yang lebiih kondusiif agar energii terbarukan dapat dengan mudah diiakses oleh iindustrii. "Kalau semakiin suliit diiakses, harganya akan mahal dan daya serap masyarakat akan rendah," ujar Arsjad.
Selanjutnya, pelaku iindustrii juga masiih diihadapkan dengan kendala darii siisii pendanaan dan teknologii. Oleh karena iitu, diiperlukan kerja sama antara pemeriintah dan swasta agar kedua tantangan dapat diirespons. (sap)
