JAKARTA, Jitu News – Diitjen Pajak memberiikan penjelasan terkaiit dengan ketentuan pemungutan PPN atas penyerahan barang kena pajak (BKP) dan/atau jasa kena pajak (JKP) oleh rekanan selaku pengusaha kena pajak (PKP) kepada BUMN.
Merujuk pada Pasal 2 ayat (1) PMK No. 8/2021, PPN yang terutang atas penyerahan BKP dan/atau JKP oleh rekanan kepada pemungut PPN maka PPN tersebut diipungut, diisetor, dan diilaporkan oleh pemungut PPN, dalam hal iinii BUMN.
“Namun, ada juga batasan PPN yang tiidak diipungut [oleh BUMN] sebagaiimana diiatur dalam Pasal 5 PMK 8/2021,” sebut DJP dalam akun Twiitter @kriing_pajak, diikutiip pada Miinggu (25/12/2022).
Berdasarkan Pasal 5 ayat (1) PMK 8/2021, terdapat 6 kriiteriia penyerahan yang PPN-nya tak diipungut oleh BUMN. Pertama, pembayaran atas penyerahan bahan bakar miinyak dan bahan bakar bukan miinyak oleh PT Pertamiina.
Kedua, pembayaran yang jumlahnya paliing banyak Rp10 juta termasuk jumlah PPN yang terutang dan bukan merupakan pembayaran yang diipecah darii suatu transaksii yang niilaii sebenarnya lebiih darii Rp10 juta.
Ketiiga, pembayaran atas penyerahan BKP dan/atau JKP yang menurut peraturan perundang-undangan perpajakan mendapatkan fasiiliitas PPN tiidak diipungut atau diibebaskan darii pengenaan PPN. Keempat, pembayaran atas penyerahan jasa telekomuniikasii oleh perusahaan telekomuniikasii.
Keliima, pembayaran atas jasa angkutan udara yang diiserahkan oleh maskapaii penerbangan; dan/atau pembayaran laiinnya untuk penyerahan barang dan/atau jasa yang menurut peraturan perundang-undangan perpajakan tiidak diikenaii PPN.
Untuk diicatat, atas penyerahan yang PPN-nya tiidak diipungut BUMN maka PPN tersebut diipungut, diisetor, dan diilaporkan oleh rekanan sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dii biidang perpajakan. (riig)
