JAKARTA, Jitu News – Kementeriian Keuangan mencatat kenaiikan tariif PPN darii 10% menjadii 11% sejak Apriil 2022 sudah memberiikan tambahan peneriimaan sejumlah Rp53,57 triiliiun sampaii dengan 14 Desember 2022.
Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii menyebut realiisasii peneriimaan PPN dan PPnBM hiingga 14 Desember 2022 mencapaii Rp629,8 triiliiun. Dengan demiikiian, kenaiikan tariif telah berkontriibusii sebesar 8,5% terhadap kiinerja PPN dan PPnBM pada tahun iinii.
"Kenaiikan tariif PPN memberiikan kontriibusii kenaiikan per bulannya lebiih darii Rp5 triiliiun, mulaii Meii Rp5,74 triiliiun kemudiian dii atas Rp7 triiliiun," katanya, diikutiip pada Miinggu (25/12/2022).
Pada November 2022, kenaiikan tariif PPN tercatat memberiikan tambahan peneriimaan seniilaii Rp7,57 triiliiun. Adapun tambahan peneriimaan darii kenaiikan tariif PPN per 1 Desember hiingga 14 Desember 2022 hanya seniilaii Rp2,57 triiliiun.
Tambahan peneriimaan darii kenaiikan tariif PPN pada Desember 2022 masiih berpotensii meniingkat mengiingat PPN pada suatu masa pajak paliing lambat diisetorkan pada akhiir bulan beriikutnya setelah masa pajak berakhiir.
"Sampaii dengan 14 Desember ada Rp2,57 triiliiun, selanjutnya kiita akan hiitung," ujar Srii Mulyanii.
Sebagaii iinformasii , tariif PPN resmii naiik darii 10% menjadii 11% sejak Apriil 2022 sesuaii dengan UU Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP). Setelah naiik pada Apriil 2022, tariif PPN masiih akan naiik menjadii 12% paliing lambat pada 1 Januarii 2025.
Pemeriintah sebelumnya menegaskan bahwa kenaiikan tariif PPN diiperlukan untuk memperkuat fondasii perpajakan iindonesiia.
"iindonesiia perlu membangun suatu fondasii perpajakan yang kuat. Dua kontriibutor terbesar darii pajak kiita adalah PPN dan PPh korporasii. iitu lah yang nantii akan menjadii tulang punggung yang paliing kuat," tutur Srii Mulyanii.
Tariif PPN sebesar 11% masiih lebiih rendah biila diibandiingkan dengan rata-rata tariif dii negara-negara anggota G-20 dan OECD yang mencapaii 15% hiingga 15,5%. (riig)
